Selasa, 12 Februari 2013

konsep generasi yang qur’ani


Yang pertama mari kita sama sama memperbaiki keturunan kita dengan cermat Memilih calon pasangan hidup yang sesuai dengan konsep islam.seperti sabda rasulullah yang artinya:
             “nikahilah oleh mu perempuan dengan empat kriteria,yaitu yang pertama karena   kecantikanya,yang kedua karena hartanya,ketiga karena keturunanya,dan yang ke empat karena agamanya,jika tidak menemukan yang ke tiga itu maka pilih lah yang kuat agamanya karena itu lebih baik bagimu”)HR.Bukhori Muslim)


seperti pepatah pula mengatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.untuk trik ke dua cara mencetak generasi yang qur’ani adalah Membina rumah tangga yang harmonis(sakinah,mawaddah,warahmah) ketika membina rumah tangga yang harmonis maka akan terlahir generasi yang baik,kenapa? karena tidak sedikit anak yang kurang perhatian orang tua maka mempengaruhi pada pola pikir anak.untuk itu mari buu,pak kita sama sama saling menjaga dan menghargai karakter isttri atau suwami masing masing demi terciptanya generasi yang qur’ani,yu kita rubah kebisaan yang kurang nyaman untuk kita dan  keluarga,untuk langkah selanjutnya dalam rangka terwujudnya generasi yang qurani adalah Mendidik anak untuk mengenal ketauhidan (mengenal allah) cara ini sudah di contohkan oleh rasulullah SAW,ketika memperkenalakan kepada anak dan istrinya terutama ketika rasul menerima wahyu pertama surat al alaq 1-5,beliau langsung mengamalkanya pada istrinya yaitu siti khodijah.
kemudian Ajarkan metode belajar yang benar menurut Islam.Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab As-Syakhshiyah
al-Islâmiyyah jilid 1,bahwa Islam mengajarkan metode belajar yang benar, yaitu:
1. Mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga dipahami apa yang dipelajari dengan benar.
2. Meyakini ilmu yang sedang dipelajari hingga bisa dijadikan dasar untuk berbuat.
3. Sesuatu yang dipelajari bersifat praktis, bukan sekadar teoretis, hingga dapat menyelesaikan suatu masalah.
Dalam mempelajari alam semesta, misalnya, dikatakan secara teoretis bahwa bulan mengelilingi bumi. Untuk menjadikannya sebagai pemahaman yang mendalam haruslah anak diajak melihat fakta bulan, yang dari hari ke hari berubah bentuk dan besarnya. Dengan demikian, anak pun menjadi yakin bahwa perubahan tanggal setiap harinya adalah karena peredaran bulan. Dengan begitu, ia dapat mengetahui bahwa menentukan tanggal satu Ramadhan, misalnya, adalah dengan melihat bulan.bahwa Islam mengajarkan metode belajar yang benar,karena tidak mungkin kita mengajarkan hal yang buruk pada orang kita sayangi.


Point penting selanjutnya dalam mencetak generasi qurani adalah Mengajari anak untuk memuliakan para ulama, seperti riwayat Abu Umamah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Ada tiga manusia, tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang munafik. Mereka adalah orangtua, ulama, dan pemimpin yang adil. (HR ath-Thabrani). Karena Ulama adalah pewaris para nabi. Memuliakan dan menghormati mereka, bersikap santun dan lembut di dalam bergaul dengan mereka, adalah di antara adab yang harus dibiasakan sejak kanak-kanak. Memuliakan ulama menjadikan anak akan memuliakan ilmu yang diterimanya, yang dengannya Allah menghidupkan hati seseorang. Abu Umamah ra. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk dekat dengan ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan deras.” (HR ath-Thabrani)
       Langkah terakhir ini lah yang akan menjadi pelengkap dalam mencetak generasi qurani apa itu? Yaitu Mengajak anak menghadiri majelis-majelis kaum dewasa.
Seperti yang di sabdakan Nabi saw. pernah menceritakan bahwa beliau ketika masih kecil juga turut menghadiri majelis-majelis kaum dewasa. Beliau mengatakan: “Aku biasa menghadiri pertemuan-pertemuan para pemuka kaum bersama paman-pamanku….” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad sahih dalam Musnad-nya [2/157] dan oleh Ahmad [1/190]) Dengan membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, akalnya akan meningkat, jiwanya akan terdidik, semangat dan kecintaannya kepada ilmu akan semakin kuat. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.
Kehadliran buah hati bagi para orang tua merupkan investasi yang berkesinambungan. Tentu harus ditumbuhkembangkan sehingga menjadi kader penerus cita-cita besar keluarga. Yaaa, berusaha dan berdo’a jangan sampai anak-anak kita menjadi beban tiada berkeseduhan. Beban kita. Beban para anggota keluarga. Beban masyarakat. Dan beban negara. Nahhh, kiat sederhana ini diharapkan dapat menjadi jamu untuk menyembuhkan segala penyakit. Jamu racikan sendiri ini dihadiahkan para orang tua siap mempunyai generasi yang mBeneh. Mengapa demikian? Inilah jawabannya dalam kiat-kita.



resep atau trik atau bisa juga di sebut oleh oleh dari pembahasan ini yaitu  melejitkan potensi anak.
1.   Ubahlah diri, prilaku, kebiasaan kita, para orang tua sesuai dengan visi, misi, target yang diharapkan pada diri anak. Nahhhh kita mengenal diri kita lebih dalam. Kita harus menyesuaikan diri kita dengan cita-cita terhadap masa depan anak. Bagaimana kita punya cita-cita mensholehkan anak jika tiap saat anak melihat kita dalam bencana keteledoran. Bagamana ada harapan anak mandiri jika setiap hari tidak ditemukan latihan-latihan. Mengubah diri untuk merancang masa depan anak kita. Mau? Berani? Pasti sukses.
2.  Catat kembali kebiasaan buruk masa kecil, masa remaja, dan saat ini. Catat kebiasan buruk yang ditampilkan diri kita. Perbaikan menuju prilaku terpuji. Perbaiki menjadi investasi kenangan yang masuk di otak anak. Jangan biarkan prilaku buruk menghiasi kehidupan anda sehingga secara otomatis anda turunkan ke anak tiap waktu.
3.  Sabarlah, tenanglah jika mendapatkan kenyataan perangai, fisik, prestasi dan kebiasaan anak jauh dengan target dan cita-cita kita. Saatnya melakukan pendekatan. Saatnya mencari sumber apinya. Yaaaa jika ada asap pasti ada sumber apinya. Melalui deteksi sumber api, kita masuk untuk mengubah bertahab, pelan, sabar dan telaten. Kemarahan, kejengkelan tidak mampu mengatasi masalah. Justru menambah rumitnya masalah.
4.  Tempatkan anak-anak kita di situasi terbaik. Maaf situasi terbaik sering dalam persepsi yang tidak sama setiap orang. Semisal ada ibu-ibu yang memanjakan anak dianggap mendidik dalam situasi terbaik. Nah situasi terbaik adalah mengkondisikan lingkungan anak jauh dari pengganggu tumbuh kembang anak baik secara fisik, psikis maupun moral. Dan mendekatkan semua sumber kehidupan yang mampu menumbuhkembangkan inisiatif dan partisipatif positif setiap waktu.
5.  Berilah waktu 24 dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu untuk buah hati kita. Tentu kita bertanya, “berarti kita tidak beraktifitas lain? Berarti kita tidak bekerja?”. Jawaban singkatnya “tidak. Tidak demikian.” Justru kita bekerja dan beraktifitas lain tetapi waktu kita tetap untuk anak secara penuh. Inilah kecerdasan dalam mengatur waktu diri sendiri dan keluarga. Semua dapat berjalan sesuai dengan cara mengatur waktu kita dan memandang esensi waktu. “Bagaimana dengan orang tua yang putra-putrinya lebih dari satu?” Jawabnya sama saja. Bergantung pada kecerdasan mengatur waktu. Masih bingung? Ikuti bahasan dalam sesi kecerdasan mengatur waktu, Insya Allah kali lain.



Agar Anak Gemar Menghapal Al-Qur'an


Siapa yang tak ingin memiliki anak seorang penghapal Quran?? Tak hanya cerdas secara intelektual saja, namun cerdas yang sesungguhnya dengan nilai Qurani yang tertanam lekat di setiap langkah hidupnya. Ya, merekalah generasi harapan bangsa ini. Merekalah generasi harapan dunia.

Mewujudkan mimpi memiliki generasi yang cinta Qu’ran adalah hal yang mulia. Hal tersebut nihil tercapai manakala mimpi itu tiada diazamkan sejak dini, dan tidak diri sendiri, Ya, pasti kita tak lupa pada sosok keluarga teladan Ustadzah Wiwirianingsih dengan 10 Bintang Penghapal Qurannya. Meski saya atau Anda masih berada pada jangka jauh memiliki anak namun tak ada salahnya mempersiapkan ilmunya sedini mungkin. Berhasil merancang atau mempersiapkan sama dengan mempersiapkan keberhasilan, bukan?

Bermula dari sebuah ayat sederhana di QS. Al Qamar ayat 17, “Dan telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Ternyata, ayat dengan redaksi yang sama persis Allah ulang sebanyak 4 kali. Selain di ayat 17, di surat yang sama, termaktub pula di ayat 22, 32, dan 40. Penegasan yang mantap dari Allah ta’ala. Pun dinyatakan pula oleh baginda Rasul bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya.

Saya terinspirasi oleh workshop Quran Learning for Children yang diselenggarakan Rumah Qurani. Agenda yang berlangsung pada 22-23 Juni di Wisma Telkomsel ini membuka tabir pengetahuan saya betapa mimpi memiliki generasi penghapal Quran adalah amat tepat. Anak, tak lagi diragukan potensi yang Allah anugerahkan pada mereka. Masa golden age hingga kisaran 3 tahun menjadi titik penentu terpenting bagi orang tua dalam proses suksesi pendidikan anak mereka. Nah, pada saat inilah internalisasi nilai dan pembelajaran Quran sangat tepat diterapkan.

Mengajarkan Quran pada anak kuncinya ada pada satu hal. Dikatakan oleh Adhi Fikri, sang penyaji, yang terpenting adalah anak merasa senang terlibat (engage happily) di dalamnya. Menumbuhkan rasa senang itu dapat ditempuh melalui cerita. Ya, cerita menjadi media efektif penanaman dan pengajaran Quran pada anak. Pembacaan cerita menurut Englehert (2011) adalah sebuah seni. Pembacaan cerita menjadi aktivitas yang sangat baik bagi anak. Collins dalam Isbell (2004) menyatakan bahwa pembacaan cerita pada anak memberikan keteladanan bahasa dan pemikiran yang dapat mereka contoh. Maka tak heran, hingga usia kita yang telah memasuki kepala dua, tiga, bahkan lima puluhan masih saja ada sepenggal memori tentang kisah yang dibawakan saat kita kecil dahulu.

Adhi Fikri yang merupakan pendiri Rumah Qurani benar-benar menerapkan teori yang dikemukakan di atas. Bermula dari sebuah garasi yang mungil, ia mendidik anak-anak Rumah Qurani dengan kisah atau cerita. Tak ada tekanan apapun pada anak untuk menghapal ayat-ayat Quran. Dengan sendirinya, setelah anak antusias untuk mendengar cerita yang Adhi bawakan maka mereka menghapal bahkan lebih luar biasa dari ekspektasinya. Anak yang berada di bawah bimbingan Rumah Quran mampu memvisualisasikan ayat dengan sangat baik. Mereka memang diajarkan metode menghapal Quran dengan isyarat. Metode ini menuntun anak untuk memvisualisasikan ayat lewat gerak kinestetik atau motorik. Saat metode ini diaplikasikan, maka kerja menghapal menjadi lebih mudah lantaran otak kanan berperan lebih aktif dalam proses ini.

Adhi Fikri yang telah membina anak untuk menghapal Quran melalui cerita telah berkiprah selama 11 tahun di dunia itu. Kemahirannya untuk menarik perhatian anak, memerankan karakter dalam ayat, bernain suara, dll membuat potensi menghapal Quran anak melejit dengan sempurna. Anak-anak ia ajak untuk terlibat aktif secara verbal, emosi bahkan fisik (gerak) dalam penuturan cerita ayat Quran. Dan lagi, ia pun mulanya dikejutkan dengan akselerasi hapalan anak yang melesat tajam. Anak yang ia bimbing pun mampu dengan cepat menyebutkan bunyi ayat saat pengetesan hapalan Quran secara acak. Anak juga mampu mentasmi’ hapalan Quran terbalik (dari ayat akhir menuju awal). Hal ini semakin membuat takjub akan kekuasaan Allah yang anugerahkan kecerdasan pada anak.

Maka tak ada lagi beralasan untuk tidak menerapkannya. Saatnya, kita menyiapkan dan mencetak generasi Rabbani dengan jiwa-jiwa Qur’an sejak dini. Semoga dari tangan dan rahim para muslimah Indonesia lahir generasi hafiz & hafizah yang menjadi pemimpin dan rahmat bagi semesta alam

Mendidik Anak Mencintai Al Qur’an


Membangun keluarga yang mencintai Al Qur’an adalah cita-cita mulia, sebab Al Qur’an adalah firman Alloh yang menjadi pedoman hidup manusia. Sayangnya dari ratusan juta umat Islam di Indonesia, tidak banyak yang memahami, menghafalkan, dan menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup.
Berkaca pada hadits Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang beruntung adalah ketika berhasil menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Maka jika sebagai orangtua kita berhasil mendidik anak menjadi akrab dan mencintai Al Qur’an, bahkan lebih baik daripada orangtuanya maka insya Alloh kita termasuk orang-orang yang beruntung.
Oleh karena itu penting bagi suami-istri untuk berkomitmen menjadikan putra-putri mereka akrab dengan Al Qur’an sejak dini. Lebih-lebih jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an (khufadz), sebab usia paling optimal untuk menghafal adalah antara 0-6 tahun atau yang kita kenal dengan golden age yakni saat jutaan sel otak anak tumbuh dengan optimal.
Mulai dari Orangtua
Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua sebagai pendidik harus terlebih dahulu memahami apa itu Al Qur’an, apa saja keutamaannya, serta apa saja kewajiban kita terhadap Al Qur’an. Orangtua sebisa mungkin menghayati perannya, semisal jika ingin mencetak anak menjadi penghafal Al Qur’an maka orangtua rela keliling pulau dalam rangka mencarikan pesantren penghafal Al Qur’an yang terbaik untuk putra-putrinya, juga rela berpisah dengan mereka untuk sementara waktu.
Adapun kewajiban-kewajiban kita terhadap Al Qur’an  antara lain :
1. Membaca Al Qur’an dengan benar
Karena Al Qur’an adalah bacaan sholat, jangan sampai salah membaca sehingga menimbulkan arti yang berbeda, semisal qolbu (hati) dibaca kalbu (anjing), sedikit salah membaca artinya sudah sangat jauh berbeda. Jika ingin putra-putri kita fasih membaca atau menghafal Al Qur’an, maka lidah harus dibentuk sejak dini (usia 0-6 tahun), yakni saat jutaan sel otak anak tumbuh membentuk jaringan. Mengenai hal ini Rosululloh SAW pernah menuturkan bahwa beliau sungguh beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah Bani Sa’ad yang paling fasih bahasa Arab-nya.
2. Menghafalkannya
3. Memiliki ilmunya
Dua per tiga Al Qur’an terdiri atas kisah-kisah yang disampaikan Alloh supaya bisa dijadikan pelajaran sehingga tidak melakukan kesalahan serupa.
4. Mengamalkannya
5. Menyebarluaskannya
Agar anak akrab dengan Al Qur’an maka orangtua juga harus terlebih dulu gemar dan akrab dengan Al Qur’an. Lebih-lebih bagi sang ayah, karena kisah sukses membangun keluarga qur’ani selalu dimulai dari keteladanan ayah sebagai decision maker (pengambil keputusan) dalam keluarga. Usahakan bagi para ayah untuk tidak beranjak dari masjid sebelum menyelesaikan satu juz Al Qur’an setelah sholat shubuh. Seorang ayah juga wajib mencarikan nafkah yang halal untuk istri dan anak-anaknya, sebab jika sampai masuk sesuatu yang syubhat maka doa tidak akan diijabah selama 40 hari.
Untuk mencetak generasi yang akrab dengan Al Qur’an maka orangtua harus memiliki visi qur’ani terhadap anak dan keluarganya, bersungguh-sungguh memenuhi komitmen tersebut, serta mampu bekerjasama secara sinergis. Barangkali kita bisa mencontoh keluarga Imron, Nabi Yakub AS, atau Ibrahim AS yang kisahnya telah diabadikan dalam Al Qur’an. Lagi-lagi figur ayah dituntut untuk menjadi teladan, sebab ayah bertanggungjawab menentukan peta keluarga. Anak-anak sejak lahir telah membawa syahadat, orangtua lah yang kemudian meneruskan mau dijadikan apa anak-anaknya. Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab RA ada seorang anak yang mengadukan perihal ayahnya, “Ayahku tidak memenuhi hakku, dia tidak mencarikan aku ibu yang baik, tidak mencarikan aku nafkah yang baik, juga tidak mengajariku ilmu agama”. Umar membenarkan pengaduannya serta menegur ayah dari anak tersebut.
Mulai dari Rumah
Rumah adalah madrasah pertama putra-putri kita, oleh sebab itu penting untuk mengkondisikan rumah ‘akrab’ dengan Al Qur’an. Mulai dari murottal setiap hari, tidak ada gambar-gambar syubhat atau yang dilarang, memasang kaligrafi ayat-ayat, menciptakan situasi bacaan-bacaan Islami, musik-musik Islami (nasyid), serta menjauhi perkataan dan perbuatan fahisyah. Suasana qur’ani harus dibangun agar anak merasa nyaman.
Biasakan keluarga kita untuk bangun sebelum shubuh, budayakan sholat berjamaah (utamakan di masjid). Selanjutnya upayakan tidak ada kegiatan lain setelah sholat shubuh selain interaksi dengan Al Qur’an yang diakhiri dengan do’a, baru kemudian berlanjut pada aktivitas yang lain.
Sama halnya dengan ba’da shubuh, upayakan tidak ada kegiatan lain ba’da maghrib selain interaksi dengan Al Qur’an kemudian mengkajinya hingga datang waktu Isya.
Lawanlah kebosanan dan kemalasan dengan kegiatan variatif, dinamis, fresh, dan beri penghargaan terhadap setiap usaha putra-putri kita meski sedikit. Selalu dahulukan pujian daripada celaan, semisal ketika anak membawa piring lalu pecah sekali terkadang diomeli habis-habisan padahal ketika anak membawa piring lima kali dan tidak pecah tidak pernah dipuji.
Meskipun anak melakukan kesalahan, orangtua harus menghindari menghukum anak, kalaupun terpaksa maka terapkanlah hukuman yang edukatif. Semisal jika anak telah berumur 10 tahun dan menolak untuk sholat maka boleh dipukul namun dengan pukulan kasih sayang bukan kebencian, itupun hanya boleh dilakukan pada area mata kaki hingga lutut. Jangan menjewer anak, karena telinga terdiri atas syaraf-syaraf yang bisa rusak jika dijewer, selain itu menjewer juga akan melukai hati.
Yang tak kalah pentingnya adalah mengatur dan mengurangi interaksi dengan TV, games di komputer, juga play station. Akan lebih baik jika bisa melibatkan anak dengan aktivitas orangtua terkait interaksi dengan Al Qur’an, lebih bagus lagi jika bisa diprogram.
Mulai dari Sekolahnya
Sekolah juga punya andil dalam membentuk kepribadian dan kualitas anak. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengajak dialog anak, mengarahkan, dan memilihkan sekolah/lembaga pendidikan yang mendukung. Bangunlah komunikasi dan kerjasama yang baik dengan guru dan sekolah. Upayakan untuk memfasilitasi kebutuhan anak, mengarahkan keinginannya, serta membentuk jiwanya sebelum habis waktunya (ketika masuk masa remaja yakni usia 11-15 tahun, adalah jelang berakhirnya masa usia anak).
Mulai dari Teman-Temannya
Jika ingin mengetahui kualitas seseorang, maka perhatikanlah dengan siapa dia berteman, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengontrol teman sepermainan putra-putrinya, dengan siapa dia berteman, dan tanyakan siapa teman dekatnya. Orangtua turut mengarahkan, membimbing, dan membentuk lingkungan teman-temannya. Orantua ikut mengontrol waktu dan tempat bermain dengan teman-temannya. Bisa juga dibuatkan program yang mendukung bersama dengan teman-teman lingkungannya, semisal saat liburan diisi dengan piknik tahfidz qur’an yang dikemas menyenangkan.
Masa anak-anak adalah masa yang penting, karena bagi orangtua mendidik anak itu diibaratkan seperti membentuk keramik. Saat anak masih kecil, dibentuk menjadi apapun akan mudah bagi orangtua untuk mengarahkannya. Namun jika sudah besar, ibaratnya bahan baku (tanah liatnya) sudah kering, sehingga sudah sulit untuk dibentuk, bahkan bisa retak dan pecah jika dipaksa. Lebih-lebih pada seorang anak, yang retak bukanlah fisiknya melainkan jiwanya. Jika yang retak jiwanya, maka anak akan tumbuh menjadi pemberontak yang suka melawan.
Anak adalah milik Alloh, maka terserah Alloh mengamanahkannya pada siapa. Tugas kita sebagai orangtua yang telah diamanahi oleh Alloh anak-anak tersebut adalah merawat dan menjaga nikmat itu dengan memeliharanya. Alloh telah memberi kita satu alat untuk bisa memelihara anak dengan benar, yaitu kasih sayang. Marilah kita senantiasa introspeksi diri, mengawali hari dengan do’a, serta menutup malam dengan evaluasi dan munajat pada Alloh agar selalu diberi kebaikan dan petunjuk-Nya hingga khusnul khotimah. Aamiin ya Robbal alamiin..
Ustdzah Wirianingsih Mutammimul Ula

Minggu, 03 Februari 2013

taubat


Taubat
  • Taubat memiliki arti: berhenti melakukan kemaksiatan dan kembali menuju ketaatan.
  • Taubat adalah amalan yang sangat dicintai Allah ta’ala:
    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
  • Taubat hukumnya wajib atas setiap mukmin:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
    “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh.” (QS. At-Tahrim : 8)
  • Taubat bisa mendatangkan kemenangan:
    وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Bertaubatlah kepada Allah, wahai orang-oran beriman sekalian agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur : 31)
    Dan keberuntungan akan dicapai manusia tatkala dirinya merasa sangat butuh kepada-Nya hingga Allah menyelamatkan jiwa yang terperosok mengikuti hawa nafsunya itu.
  • Taubat yang sungguh-sungguh akan mendatangkan limpahan ampunan Allah atas dosa-dosa seorang hamba. Dosa yang makin hari kian bertambah banyak.
    قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
    “Katakanlah: Wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendirinya, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Mengampuni semua dosa dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
    Saudaraku yang berbuat dosa, jangalah kalian berputus asa terhadap rahmat Rabb mu karena pintu taubat itu senantiasa terbuka sampai matahari terbit dari arah barat.
    Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
    إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها
    “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di siag hari. Dan Allah Ta’ala membentangkan tagan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di malam hari, sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim).
    Betapa banyak orang yang bertaubat atas dosa-dosanya yang besar dan Allah menerima taubat mereka. Allah ta’ala berfirman,
    وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ( ) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ( ) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
    “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan lainnya dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina dan barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun , Maha Penyayang.”(QS. Al-Furqan : 68-70)
Taubat yang nasuhah (serius) tidak terlepas dari 5 syarat:
Pertama, Ikhlas karena Allah yaitu berniat semata-mata mengharap wajah Allah, pahala atas taubatnya serta berharap selamat dari siksaan-Nya.
Kedua, menyesali kemaksiatan yang ia lakukan, merasa sedih dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
Ketiga, menjauhkan diri dari perbuatan maksiat sesegera mungkin. Jika perbutan tersebut melanggar hak-hak Allah maka segera tinggalkan. Karena perbuatan tersebut haram dilakukan sehingga wajib ditinggalkan. Adapun jika berkaitan dengan hak-hak makhluk maka bergegaslah meminta maaf baik dengan mengembalikan haknya atau meminta kelapangan hatinya agar mau memaafkan.
Keempat, bertekad untuk tidak mengulangi kemaksiatan tersebut di waktu-waktu mendatang.
Kelima, hendaknya taubat dilakukan sebelum ditutupnya pintu taubat, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum terbitnya matahari dari arah barat. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ
“Dan Taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang berbuat kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seorang diantara mereka barulah dia mengatakan, ‘Saya benar-benar taubat sekarang.’” (QS. An-Nisa : 18)
Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها، تاب الله عليه
“Barangsiapa yang taubat sebelum terbitnya matahari dari arah barat maka Allah terima taubatnya.” (HR Muslim)
Ya Allah berilah kami taufik agar senantisa bertaubat dengan sungguh-sungguh dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.
Ditulis oleh Muhammad Ash-Shalih Al-‘Utsaimin. Pada tanggal 17/4/1406 H
Maraji’ : Makhthtuthun biqalami Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Ustaimin

muhasabah untuk akhi dan ukhti muslimah

Allah yang maha agung, maha menatap, maha mendengar, maha memperhatikan, Dia tahu apa yang kita lakukan
Tidak satupun lirikan mata yang luput dari pengetahuan Allah

Tidak ada satu katapun yang terucap yang tidak didengar oleh pendengaran Allah yang maha mendengar
Saat ini kita dihargai orang lain, teman, orang tua sesungguhnya bukan kemuliaan yang kita miliki melainkan karena Allah yang masih menutupi aib kita
Wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya kian lama kia dekat dengan kepulangan kita
Kain kafan akan ada saatnya akan dibungkuskan ke badan kita
Alangkah beruntungnya jikalau kematian datang kita benar benar sudah siap
Dosa sudah diampuni oleh Allah, badan kita terbasuh air wudhu
Alangkah indahnya  jikalau malaikat maut menjemput dengan paras yang  teramat indah
Kening kita usai berwujud, lisan kita sedang lirih menyebut nama Allah
Keringat kita sedang bersimbah berjuang dijalan Allah
Alangkah indahnya jikalau kematian datang orang tua ridho kepada kita,
orang orang yang kita sakiti sudah memaafkan tidak ada hutang piutang
Alangkah indahnya jikalau kematian datang air mata kita sedang menetes ingat dan rindu kepada Allah
Kita lepas ajal kita dengan kemuliaan dengan khusnul khotimah
Tapi alangkah banyaknya orang orang yang mati dengan keadaan sebaliknya
Mati dalam keadaan dosa
Mati di tempat zina
Mati dikutuk dan dilaknat orang tua
Mati dengan berselimut harta haram

Wahai saudaraku, hidup di dunia hanya sebentar, Allah yang menciptakan kita memilih kita menjadi manusia,
bukan menjadi hewan atau tumbuh tumbuhan
Diantara bermilliaran manusia, kita ditakdirkan menjadi orang islam
Betapa banyaknya manusia yang tidak mengenal islam
Diantara begitu banyak orang islam banyak yang  tidak mengenal sujud dan tausiah, Allhamdullilah
Kening ini sering diberi kesempatan untuk bersujud, Allhamdullilah
Otak kita dibuat cerdas tidak menjadi orang yang hilang ingatan
Allah memberi mata kepada kita sehingga kita bisa melihat indahnya alam
Kita diberi telinga yang dapat mendengar dengan jelas mendengar suara adzan, mendengar suara bayi
yang menangis & dapat menerima ilmu, Allhamdullilah
Padahal mudah bagi Allah untuk mengambil telinga ini mudah bagi Allah untuk menghendaki dunia ini menjadi sepi seketika
Allah memberikan kita lidah yang bisa bersuara walaupum Allah tahu betapa banyak dusta yang kita ucapkan,
betapa banyalk fitnah yang kita sebar dari mulut kita
Allah maha tahu perasaan yang tercabik akibat lisan kita
Tapi Allah masih memberikan kesempatan untuk menyebut namanya
Dituntun untuk bisa istigfar padahal mudah bagi Allah untuk menjadikan
mulut ini tidak bersuara

Allah maha tahu bagaimana kita riya dengan tubuh ini,
memamerkan tubuh kita sehingga orang lain tergelincir
Atau kita sering kecewa mengutuk tubuh ini
Allah maha tahu betapa kening ini betapapun bersujud jarang khusu ingat kepada Allah
Allah maha tahu keadaan hati kita yang petantang petenteng, sombong, merasa hebat padahal yang
kita sombongkan adalah titipan Allah
Andaikan hari ini malaikat maut berada dihadapan kita,
bekal yang mana yang bisa kita bawa pulang ?
bukanlah kita pasti mati ?
Bukannya semua akan diperhitungkan, mau pulang kemana ?
Saudara saudaraku bukanlah kita ingin pulang kepada Allah ?

Kita sering meminta surga tapi amalan kita amalan neraka, kita sering meminta selamat tetapi perbuatan kita celaka
Kepada orang tua kita sering durhaka, berbulan bulan kita menghisap darahnya dalam kandungan
Berdiri sulit, berbaring sulit, Kita terlahir bersimbah darah, dua tahun kita hisap air susunya
Belasan tahun kita hisap keringat dan tenaganya
Berapa banyak kata - kata kita mengirisnya, berapa banyak sorot mata kita menghujam melukai perasaannya
berapa kali kita memalingkan wajah dengan ketus kepadanya
Berapa kali kita menghardik dan mendustakannya, padahal amalan yang dicintai Allah adalah doa kita kepada orang tua
Saudaraku, durhaka kepada orang tua didahulukan sisanya di dunia
Mungkin orang tua kita berlumur keringat dan dosa karena ingin melihat kita berbahagia ,
agar kita bisa makan, agar kita punya sepatu, agar kita dihargai teman teman
Mereka membanting tulang memeras keringat, kadang mengabaikan sujud dan sholat mereka

KEMATIANKU .....

Wahai saudaraku apabila malam ini malaikat maut menghampiri kita maka sholat kita hari ini adalah sholat terakhir kita
Wahai saudaraku, ingatlah satu desah nafas adalah satu langkah menuju kubur kita
Semakin hari sesungguhnya kita semakin dekat degan  kematian kita
Kematian bukan hanya milik orang lain tapi juga milik kita
Ingatlah bahwa ajal dapat menjemput kita dimana saja mungkin dikala tidur,
dikala berjalan. Ingatlah bahwa ajal tidak bisa diduga
Wahai saudara saudaraku, kita pasti akan mati dan kita pasti akan mempertanggung jawabkan apapun yg kita lakukan
Tidak ada sedikit pun yg kita lakukan akan kembali kepada kita sendiri
Allah melihat persis apa yg kita lakukan tidak ada yg tersembunyi
Siapkah kita andaikata malaikat maut menjemput kita hari ini ?
Ingatlah pada syarakatul maut adalah  saat yg sangat pahit
Kita sering melihat bagaimana hewan kurban yg tidak punya dosa,
Allah memperlihatkan kepada kita pahit nya saat ajal memisah dari tubuh kita mata terbeliak lidah menjulur,
badan menggelepar glepar sesungguhnya kitapun akan demikian

Walaupun tampak tenang sesungguhnya pahit kecuali Bagi orang orang yang merindukan Allah
Andaikata kita sudah mati tidak ada lagi yang bisa menolong , harta harta kita yang mati matian kita kumpulkan
tak bisa kita bawa karna bukan milik kita tapi milik Allah
Tinggal sehelai kain kafan yang dililitkan ditubuh kita
Bayangkanlah apabila tubuh ini sudah kaku,wajah ini sudah beku
Kain kafan sudah mulai dibungkus
Bersyukur kalau kita ada yang mengurus
Bayangkanlah bila tubuh kita sudah terbukur kaku bersyukur bila ada yang menyolatkan kita
Istri, suami, anak anak kita hanya bisa menangis disekitar kita
Kita akan diusung ke kamar kita yang baru, yaitu ke liang lahat
Wajah kita akan dibuka untuk menyentuh tanah dan papan akan ditutup disekitar kita
Pelan pelan orang yang kita cintai akan menaburkan tanah sehingga semakin gelap, semakin kini sendiri
Tanah semakin penuh, semakin jauh dari mereka
Mungkinkah nanti anak anak kita yang menaburkan tanah, sahabat sahabat kita
Inilah pertemuan terakhir dengan mereka
Tinggallah kita sendiri di liang lahat, mereka semua akan pulang
Belatung, cacing sudah mulai mengunyah tubuh kita
Tapi yang menjadi masalah ketika mulai datang malaikat kubur,
Mungkin pertanyaannya: "wahai mahluk malang berpuluh puluh tahun engkau hidup di dunia "

Betapa banyaknya engkau menghianati Allah yang selalu menjamumu
Betapa banyak nikmatnya dan kau balas dengan penghianatan
Mungkin saat itu dinding kubur mulai menghimpit tubuh
Sebetulnya sholat kita akan membela tetapi sholat kita terlalu lemah, karena tidak pernah khusu
Mungkin sedekah kita akan membela tapi sedekah kita terlalu lemah karena kita terlampau kikir
Mungkin saum kita akan menolong tapi saum kita hanya saum perut, mata tidak pernah saum, mulut tidak
pernah saum, hanya bisa menyakiti orang lain
Mungkin haji kita akan menolong tapi haji kita haji mardun, yang tertolak karena niatnya tidak benar
Tinggallah kita menderita, paling hanya doa anak dan keluarga kita yang kita tunggu tunggu, tapi bagaimana ?
Mereka tidak bisa berdoa karna kita tidak pernah mengajarkan mengenal Allah dengan baik
Tahukah saudaraku, siksa kubur terhenti apabila anak kita berdoa atau orang yang Allah titipkan
Doa tersebut bagai cahaya yang masuk sehingga kubur kita menjadi terang benerang
Berbahagialah bagi orang orang yang cukup bekal, kubur akan menjadi salah satu kenikmatan
Sholatnya menjadi cahaya terang benerang ,
sedekahnya menjadi ganjaran,
wakafnya menjadi pahala yang tak pernah putus,
orang orang yang ditolong akan selalu mendoakan, ilmu yang diajarkan akan mengalir tiga ganjaran

Wahai saudaraku, kenapa kita selalu mengganggap kematian itu keliatannya adalah untuk orang lain, padahal kita pasti mati
Setiap perbuatan kita di dunia akan dihitung lengkap, apakah kebaikan, keburukan yang lebih banyak
Wahai Allah, Engkaulah yang maha tahu kapan ajal akan menjemput kami
Kain kafan mana  yang akan dililitkan di tubuh ini,
Juga liang lahat mana yang kami akan huni
Wahai Allah ijinkanlah kami memiliki sisa umur yang benar, ampunilah andaikata selama ini kami menghianatimu
Jadikan harta yang engkau titipkan benar benar dapat menjadi cahaya dalam kubur kami kelak
Jadikanlah sholat sholat kami menjadi pendamping kami ya Allah

ORANG TUAKU ....

Kita tidak tahu akan berapa lama lagi kita bisa menatap wajah ibu bapak kita
Andaikata ibu bapak kita sudah terbungkus kafan
Tidak ada lagi wajah yang bisa ditatap
Tidak ada lagi  tangan yang bisa kita cium
Tidak ada lagi oleh oleh yang bisa kita bawakan
Tidak ada lagi sapaan yang bisa kita tunggu
Tidak ada lagi doanya untuk kita
Andai ibu bapak kita sudah berada di liang lahat maka tidak pernah lagi kita melihat lagi mereka dirumah
Andai tanah sudah menimbun jasadnya
Jangan sia siakan ibu bapak kita
Sampai kapanlah kita akan melukai hatinya,
seburuk apapun keadaannya darah dagingnya melekat pada tubuh kita
Solehkanlah yang orang tuanya yang belum soleh
Muliakan yang orang tuanya terhina
Saudaraku kenanglah kebaikan orang tua kita
Dimana gerangan di akhirat  keluarga kita berkumpul, adik, kakak,  apakah kita kan kumpul di surga
berjumpa dengan Rosul Allah atau cerai berai di neraka
Ya Allah utuhkan keluarga kami di dunia ini mulia, utuhkanlah keluarga kami di surgaMu mulia
Ya Allah karuniakan kepada kami hati yang penuh cinta, cinta kepadamu ya Allah, dan golongkanlah
hati ini menjadi hati yang selalu rindu ingin berjumpa dengan Mu

DOAKU ....

Ya Allah kami mohon berikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala dosa dosa kami,
Ampun ya Allah..., Ampunilah kami ya Allah ...
Ampuni sekelam apapun masa lalu kami,
Hapuskanlah segala kotornya aib aib kami
Ampuni apabila kami sering tidak ridho dengan takdir Mu ya Allah
Ampuni segala kezaliman kami, terhadap orang tua kami
Ya Allah, selamatkan orang tua kami, jadikan tetesan keringatnya,
Air matanya, darahnya jadi jalan
Kemuliaan bagi dunia dan akhirat
Sayangi ibu bapak kami ya Allah....
Golongkan kami menjadi anak yang tahu balas budi
Lapangkan kuburnya ya Allah 3x, ringankan hisabnya

Kamis, 08 November 2012

doa akhi untuk ukhti

Tak Kan Habis Ku Berdo'a Jadi Kekasih Halalmu,,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,


`*•Yaa Rabbi•*´¯)Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam ke
tika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.
Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin Khattab,sedermawan Utsman bin Affan,
sepintar Ali bin Abi Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhum...Aamiin ya Rabbal'alamin.

Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas dipilihnya engkau sebagai pendampingku atas dipilihnya engkau sebagai kekasihku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku denganmu untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.

Adindaku sayang,

Aku adalah orang asing bagimu, dan engkau adalah orang asing bagiku. Kalau bukan karena mengharap ridha Allah atas pernikahan ini, tentu engkau akan memilih orang dekat yg engkau ketahui latar belakangnya, tapi karena engkau memilih Allah sebagai pelindungmu atas segala bahaya yg akan datang padamu, atas segala nikmat yg akan tercurah kepadamu maka engkau memilih aku sebagai suamimu meskipun aku sangat asing bagimu. Maka dengan itu pula akupun berdoa kepada Allah semoga engkau selamat dari bahaya yg timbul karena menikah denganku dan semoga rahmat Allah dapat tercurah kepadamu melalui pernikahan ini.

Adinda sayangku.

Aku bukanlah manusia sempurna yang terbebas dari salah. Aku hanyalah seorang hamba yg ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah nabi seperti para sahabatku lainnya. Aku hanyalah seorang pengembara yang baru saja menemukan pulau tambatan hati, setelah sekian lama terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan, hingga Allah menurunkan rizkinya kepadaku berupa dirimu, sebagai tempat pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun dikala dahaga, sebagai tempat berteduh dikala panas, sebagai selimut dikala dingin, sebagai peredam duka dikala emosi, sebagai tempat berpangku mesra dikala gundah gulana dan sebagai tempat mengadu dikala ragu dan buntu.

Adindaku,

Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih kepadamu, aku tak ingin engkau secantik Zulaikha,atau secerdas Aisyah, atau sezuhud Khadijah atau semulia Maryam. Aku juga tak ingin engkau sesolehah Asiah tetapi bersuamikan firaun. Aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yg menangis dikala sedih, yg marah dikala terluka dan tersenyum dikala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna istri sang nabi, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sesempurna beliau. Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani sikap mereka.

Adindaku…

Jika engkau mengharap harta dariku, ketahuilah aku hanyalah seorang pemuda biasa, yg penghasilannya dapat engkau lihat sendiri. Aku juga bukan pengusaha yg mungkin bisa mewujudkan semua impianmu dengan uang mereka. Tapi jika engkau berpendapat bahwa harta dapat membawa kita kepada syurga, atau kefakiran bisa membawa kepada kekufuran, aku setuju dengan mu. Tapi aku bukanlah Abdurrahman bin auf, atau Abu bakar shiddiq atau ustman bin affan, yg dengan hartanya bisa membawa mereka ke pintu syurga. Aku mungkin hanya bisa menjadi Abudzar al giffari, yg hidup dalam kesendirian dan mati dalam kesendirian. Hanya iman yg ia bawa dan istri yg setia yg menemani pada saat-saat terakhirnya.

Adinda ku..

Justru dengan keberkahan yg insya Allah hadir bersamamu, kita bisa bersama-sama mengumpulkan harta sebagai bekal untuk akhirat kita. Justru dengan pernikahan ini semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yg kita tidak sangka-sangka.

Adindaku sayang..

Saat mengetahui engkau menerima khitbahku. Aku menangis terharu, bumi yang ku pijak seakan bergoyang. Aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, saat engkau menyetujui lamaranku. Penantian panjang dan melelahkan yg menghabiskan hampir separuh nafas para pemuda dan pemudi, yg membuat mereka terbangun dikala malam, mengadukan nasibnya pada illahi rabbi, menangis disela-sela rintihan dan doa seraya bertanya kapan masa itu akan hadir menjemput mereka.

Masa-masa yg menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang kekurang akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan diatas titian besi panas hingga mampu menjerumuskan mereka yg tidak sabar akan datangnya masa bahagia itu. Adindaku, tibanya masa itu merupakan rahmat yg tiada tara bagi para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjuangan dan bukanlah sebuah permainan.

Adindaku…

Jika engkau mengharapkan ketampanan, kesempurnaan fisik dan penampilan, ketahuilah aku hanyalah seorang manusia biasa, yg lahir dari benih ayah dan ibuku, yang rupa dan bentuk fisiknya tak bisa aku inginkan sesuai mauku. Aku hanya menerima takdir tuhan, beginilah diriku adanya. Aku tidak setampan nabi Yusuf, tidak segagah nabi Daud, tidak sekuat Umar bin khatab, tidak sehalus Usman bin affan, tidak sepintar Ali bin abi thalib, dan aku juga tidak sesabar Abu bakar shiddiq. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung kepada Allah, atas kelemahan diriku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki salah satu saja sifat mulia mereka, maka aku bersyukur kepada Allah atas doamu itu dan juga atas berlipatnya rizkiku karena menikah dengan manusia pemilik doa sepertimu.

Adindaku,

Aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa yang akan datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu. Sayangku, Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan rabb pencipta alam semesta.

Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yanglain kecuali Tuhan mu, sebab aku tidak akan sanggup menjaga mu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Kamu mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, kamu bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh pemilik alam semesta, ketimbang dikuasai oleh aku atau apapun itu.

Adindaku,

Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita,

Pada tahun pertama perkawinan kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja sama, aku khawatir perahu ini tenggelam ketika baru saja kita meninggalkan pantai.

Pada tahun kedua hingga tahun kelima, kuharap engkau sudah mengerti tentang diriku, tentang sifat dan tingkah lakuku. Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai.

Aku berpesan kepadamu,

Kemuliaanmu sebagai seorang ibu baru saja dimulai, jika engkau merasa capek dan lelah janganlah sungkan-sungkan untuk meminta tolong kepadaku. Meski aku tahu pada saat itu mungkin kehidupan kita masih prihatin. Tapi aku yakin anak-anak kita yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka lara, letih dan lelah serta rasa capek dan lelah karena tugas kita. Tugasmu sebagai madrasah yang memberi pendidikan agama dan nilai luhur para orang saleh pendahulu kita, dan tugasku membantumu membumikan pendidikan itu.

Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi janjinya kepada kita.

Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah telah mengalirkan rezeki yang deras kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa. Aku memohon kepadamu, bantu aku menguatkan batin dan jiwaku agar aku tidak terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan wanita. Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.

Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi zikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput.

Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga, saling memberi peringatan dan tausiah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Terakhir aku ingin kado ku ini menjadi prasasti cinta kita, yang tertanam jauh dilubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu kembali ke komitmen awal pernikahan.