Selasa, 07 Desember 2010

Kenangan Tugas Tafsir MAK


Surat : AL-A'RAAF :199




Artinya:
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada
orang-orang yang bodoh.

(QS. 7:199)

Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan Rasul-Nya agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang
 moral dan hukum.
1. Sikap Pemaaf
         Allah swt. menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia
dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga lari
dari agama.
Sabda Rasulullah saw.:

يسروا ولا تعسروا
Artinya:
Mudahkanlah, jangan kamu persulit.
(H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muaz)
Termasuk prinsip agama, mudahkanlah, menjauhkan kesukaran dan segala halnya dalam bidang budi
pekerti manusia yang banyak dipengaruhi lingkungannya. Bahkan banyak riwayat menyatakan
bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti.
Rasulullah berkata sehubungan dengan ayat ini:

ما هذا يا جبريل؟ قال: إن الله أمرك أن تعفو عمن ظلمك وتعطي من حرمك وتصل من قطعك
Artinya:
"Apakah ini ya Jibril?" Jawab Jibril: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar
memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau
memberi kepadamu dan menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya."
(HR Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibnu Umaimah dari bapaknya)

2. Menyuruh manusia berbuat makruf.
            Makruf adalah adat kebiasaan masyarakat yang baik yang tidak bertentangan dengan ajaran
agama Islam. Dalam Alquran kata "makruf" dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang
penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan. Dalam pengertian kemasyarakatan
kata "makruf" dipergunakan dalam arti adat kebiasaan dan muamalat dalam suatu masyarakat.
Karena itu ia berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa, negara dan waktu. Di antara para
sarjana memberikan definisi "makruf" dengan apa yang dipandang baik melakukannya menurut
tabiat manusia yang murni tidak berlawanan dengan akal pikiran yang sehat. Bagi kaum muslimin
yang pokok ialah berpegang teguh pada nas-nas yang kuat dari Alquran dan sunah. Kemudian
mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan
dengan nas agama secara jelas.


3. Menjauhkan diri dari orang-orang yang jahil.
Yang dimaksud dengan orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan
 gangguan-gangguan terhadap Nabi dan tidak dapat disadarkan. Allah memerintahkan kepada
Rasul-Nya agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil tidak melayani mereka dan tidak
membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.



            Ayat ini menurut Az-Zamaksyari dan Ibnu Asyur termasuk kategori“Ajma’u Ayatin fi Makarimil Akhlak”, ayat yang paling komprehensif dan lengkap tentang bangunan akhlak yang mulia, karena bangunan sebuah akhlak yang terpuji tidak lepas dari tiga hal yang disebutkan oleh ayat diatas, yaitu mema’afkan atas tindakan dan prilaku yang tidak terpuji dari orang lain, senantiasa berusaha melakukan dan menyebarkan kebaikan, serta berpaling dari tindakan yang tidak patut.
            Imam Ar-Razi pula memahami ayat ini sebagai manhaj yang lurus dalam bermu’amalah dengan sesama manusia yang jelas menggambarkan sebuah nilai akhlak yang luhur sebagai cermin akan keluhuran ajaran Islam.
            Ibnu ‘Asyur berpendapat bahwa sesungguhnya ayat ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur’an atas perilaku umumnya orang-orang musyrik. Sedangkan dalam pandangan Sayid Quthb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an karena merupakan arahan dan taujih langsung Allah swt kepada Rasul-Nya Muhammad saw dan orang-orang yang beriman bersama beliau saat mereka berada di Makkah dalam menghadapi kebodohan dan kesesatan orang-orang jahiliyah di Makkah pada periode awal perkembangan Islam.
            Menurut Ja'far as-shiddiq tidak terdapat dalam Al-Quran sebuah ayat yang menghimpun budi luhur melebihi ini.Karena akhlak itu dipandang dari segi kekuatan insaniyyah terdapat 3 macam yaitu mengenai akal dapat dikatakan kebijaksanaan yaitu mengerjakan yang makruf,mengenai syahwat dapat dikatakan iffah artinya menahan hati dan memberi maaf,dan mengenai kebengisan dapat dikatakan syaja'ah yaitu keberanian untuk berpaling dari orang-orang yang jahil.
            Dalam surah Al-Baqarah: 109
Allah swt berfirman, “Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dalam ayat ini, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw agar tetap menjunjung tinggi akhlak mema’afkan kepada setiap yang beliau temui dalam perjalanan dakwahnya.
Bahkan dalam surah Ali Imran: 159,
            Allah menggambarkan rahasia sukses dakwah Rasulullah saw yang dianugerahi nikmat yang teragung dari Allah swt yaitu nikmat senantiasa bersikap lemah lembut, lapang dada dan mema’afkan terhadap perilaku kasar orang lain , “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
            Secara redaksional, perintah mema’afkan dalam ayat Makarimil Akhlak di atas bersifat umum dalam segala bentuknya. Ibnu ‘Asyur menyimpulkan hal tersebut berdasarkan analisa bahasa pada kata “Al-Afwu” yang merupakan lafadz umum dalam bentuk “ta’riful jinsi” (keumuman dalam
jenis dan bentuk mema’afkan). Mema’afkan disini bisa diartikan sebagai sikap berlapang dada, tidak membalas prilaku buruk orang, bahkan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun tetap keumuman Al-Afwu disini tidak mutlak dalam setiap keadaan dan setiap waktu, seperti terhadap orang yang membunuh sesama muslim dengan sengaja tanpa alasan yang benar, atau terhadap orang yang melanggar aturan Allah swt secara terang-terangan berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits.
            Demi keutamaan dan keagungan kandungan ayat diatas, Rasulullah saw menjelaskannya sendiri dalam bentuk tafsir nabawi yang tersebut dalam musnad Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah saw pernah memberitahukan kepadanya tentang kemuliaan akhlak penghuni dunia.
Rasulullah saw berpesan: “Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema’afkan terhadap orang yang mendzalimimu”.
            Penafsiran Rasulullah saw terhadap ayat diatas sangat jelas korelasinya. Seseorang yang menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya berarti ia telah mema’afkan. Seseorang yang memberi kepada orang yang mengharamkan pemberian berarti ia telah datang kepadanya dengan sesuatu yang ma’ruf. Serta seseorang yang memaafkan kepada orang yang telah berbuat aniaya berarti ia telah berpaling dari orang-orang yang jahil.
            Bahkan perintah ayat ini mampu membendung emosi Umar bin Khattab saat mendengar kritikan pedas Uyainah bin Hishn atas kepemimpinan Umar. Uyainah berkata kepada Umar, “Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya engkau tidak pernah memberi kebaikan kepada kami dan tidak
pernah memutuskan perkara kami dengan adil”. Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil”. Kemudian Al-Hurr membacakan ayat ini. Seketika Umar terdiam merenungkan ayat yang disampaikan oleh saudaranya. Dan semenjak peristiwa ini, Umar sangat mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegur tindakan atau prilakunya yang kurang terpuji. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).
Sungguh dalam keseharian kita, di sekeliling kita, tipologi orang-orang jahil, orang-orang yang mengabaikan aturan, norma dan nilai-nilai kebaikan Islam akan sering kita temui. Jika sikap yang kita
tunjukkan kepada mereka juga mengabaikan aturan Allah swt, maka bisa jadi kita memang termasuk kelompok orang-orang jahil seperti mereka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar