Kamis, 01 Desember 2011

Menuju Kemenangan di Bulan Ramadhan


Idul Fitri hari Kebahagiaan dan Kemenangan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Asal Ied-ud-Fithr terdiri dari dua kata, yaitu ied yang artinya hari raya, dari
...asal kata ‘ayada yg artinya kembali. Dikatakan ied karena pada hari itu
Allah s.w.t mengembalikan kegembiraan dan rasa suka cita kepada hambaNya.

Ada yang mengatakan disebut ied karena pada hari itu kembalinya
kebaikan-kebaikan dari Allah kepada hamba, pada hari itu seorang hamba
kembali dalam keadaan suci karena telah bertaubat kepada Allah dan telah
meminta maaf kepada sesamanya.

Kata kedua fithr yang artinya fitrah, kesucian dan kebersihan jiwa. Ini
karena pada hari itu seorang hamba merayakan kebersihannya dari noda-noda dosa karena beribadah dan bartubat secara intensif selama sebulan penuh.

Maka ada yang menyebut hari idul fitri sebagai hari kemenangan karena kita
berhasil mengalahkan hawa nafsu kita selama sebulan penuh.

Tidak hanya itu, hari Idul Fitri juga menandai hari-hari besejarah. Wahab
bin Manbah meriwayatkan: “Allah menciptakan sorga pada hari Iedul Fitri,
menanam pohon keuntungan (thuuba) pada hari itu dan Allah memilih Jibril
sebagai pembawa wahyu juga pada hari itu juga”.

Idul Fitri dalam al-Qur’an

Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-A’la (14-15)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. ”

Qatadah dan Ata’ mengatakan yang dimaksud dengan membersihkan diri dalam ayat ini adalah mengeluarkan zakat fitrah. Abu Said al-Khudri berkata:
yang dimaksud dengan “ingat nama Tuhannya” adalah dengan mengumandangkan takbir pada hari Idul Fitri dan bersembahyang maksudnya sholat Ied”.

Fadlilah Idul Fitri

Banyak fadlilah dan keutamaan yang diturunkan Allah s.w.t. pada hari idul
fitri. Dari Anas bin Malik Rasulullah s.a.w. bersabda ” Pada malam Idul
Fitri Allah membayarkan pahala orang-orang yang berpuasa Ramadhan, lalu
Allah memerintahkan kepada malaikat-malaikatNya di pagi hari itu agar
turun ke bumi, mereka berdiri di ujung-ujung jalan dan pintu-pintu masuk
perkampungan seraya menyerukan kepada mahluk di bumi ini dengan suara
lantang yang didengarkan oleh semua mahluk bumi kecuali manusia dan jin :

wahai umat Muhammad kelaurlah kepada Tuhanmu Yang Maha Besar, Menerima hal kecil, Membalas dengan kebesaran, Memaafkan dosa besar. Ketika mereka mulai berduyun-duyun ke masjid-masjid dan mendirikan sholat dan berdoa, maka Allah tidak mendengar permintaan mereka kecuali mengabulkan hajatnya, memberi permintaannya dan mengampui dosa-dosanya. Lalu mereka keluar dari masjid dalam keadaan diampuni oleh Allah”.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa malam Idul Fitri disebut malam pemberian
hadiah, pada malam itu Allah berseru kepada malaikatnya: “Aku bersaksi
wahai malaikatku bahwa Aku telah memberikan pahala puasa hamba-hambaKu, pahala sholat-sholat mereka. Aku limpahkan kepada mereka ridal dan ampunanKu.

Kemudian Allah berfirman “Wahai hamba-hambaku, demi keagungan
dan kemuliayaanKu, apapun yang kalian minta untuk hari akhirmu pasti akan
Kukabulkan, apapun yang kalian minta untuk dunia kalian pasti akan
Kuikutkan, Aku akan tutupi kekuranganmu sejauh engkau mengingatKu,
keluarlah dengan ampunan dan ridlaKu”.

Sebelum Idul Fitri Tiba

Sebelum Idul Fitri datang ada baiknya kita persiapkan hal-hal yang
selayaknya kita persiapkan untuk hari mulia itu. Kita perhatikan
persiapan-persiapan itu mulai dari yang wajib lalu yang sunnah.

Pertama yang harus kita kerjakan menjelang hari Iedul Fitri adalah membayar Zakat Fitrah. Zakat Fitrah waktunya adalah mulai mata hari terbenam malam Ied hingga mulai didirikan sholat Ied.

Dalam hadist riwayat Ibnu Umar, Rasulullah s.a.w. memerintahkan agar mengeluarkan zakat fitrah sebelum masyarakat keluar untuk menjalankan sholat Ied” (H.R. Jamaah).

Hadist Ibnu Abbas menegaskan bahwa “Barangsiapa mengeluarkan Zakat Fitrah sebelum sholat Ied maka itu merupakan Zakat Fitrah yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat Ied maka itu seperti sedekah biasa” (H.R. Abud Dawud).

Amalan-amalan lain yang disunnahkan menjelang Idul Fitri adalah sbb:

1. Memperbanyak membaca takbir pada malam Iedul Fitri. Itu merupakan
ibadah yang kita lakukan untuk meninggalkan Ramadhan dan untuk menyambut kedatangan ‘Idulfitri. Oleh sebab itu, disunatkan kepada kita mengucapkan takbir dengan mengangkat suara, bermula waktunya dari terbenam matahari malam Hari Raya sehingga imam mengangkat takbiratul ihram sholat ied.

Firman Allah Ta‘ala:
“Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Ia
memberi petunjuk kepada kamu, dan agar kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah diberikan”.( Surah Al-Baqarah : 185)

2. Menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak beribadah kepada
Allah, baik itu dzikir, sholat atau membaca al-Qur’an. Melantunkan kalimat
takbir juga merupakan ibadah yang dianjurkan pada malam Idul Fitri. Dalam
sebuah hadist riwayat Udah bin Shamit Rasulullah bersabda :”Barang siapa
menghidupkan malam Ied dengan beribadah kepada Allah, niscaya hatinya
tidak akan mati di hari dimana hati-hati manusia telah mait” (H.R.Thabrani).

3. Mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang terbaik, memendekkan kuku yang panjang dan menghilangkan bau badan.

4. Bagi makmum disunnahkan agar datang ke masjid atau tempat sholat Ied
dengan berjalan kaki dan berangkat pagi-pagi setelah sholat Subuh.
Sedangkan bagi imam disunnahkan mengakhirkan kedatangannya ke masjid
hingga menjelang sholat.

5. Disunnahkan sarapan pagi dengan bilangan kurma ganjil sebelum berangkat ke masjid untuk sholat Ied. (H.R. Bukhari)

6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia kepada semua orang yang ditemui
serta bersikap dermawan lebih dari hari-hari biasa.

7. Disunnah berangkat dan pulang dari masjid melalui jalan yang berbeda
untuk syiar agama.

Sholat Idul Fitri

Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah mu’akkadah menurut Syafi’iyah dan
Malikiyah. Sedangkan menurut Hanbali hukumnya Fardlu Kifayah dan menurut Hanafiyah hukumnya Wajib.

Waktu Sholat Ied adalah setelah matahari terbit setinggi tombak hingga
waktu tengah hari. Jadi waktu sholat Ied sama dengan wakatu sholat Dhuha.

Tempat dilaksanakan sholat Ied menurut mayoritas ulama adalah di lapangan
luar kota kecuali kota Makkah dimana sholat Ied lebih utama dilaksanakan
di Masjidil Haram.

Mayoritas ulama juga berpendapat bahwa sholat Ied di masjid dengan tanpa sebab seperti hujan, hukumnya makruh. (Sesuai hadist Abu Dawud dll.). Hanya ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa sholat Ied di masjid lebih utama dalam segala kondisi, dengan alasan dan dalil bahwa masjid merupakan tempat yang lebih mulia dari tempat apapun, terkecuali
bila masjid sempit sehingga tidak menampung semua jamaah, maka disunnahkan di lapangan.

Perbedaan Waktu Pelaksanaan

Saat ini terjadi fenomena perbedaan hari pelaksanaan Iedul Fitri karena
perbedaan metodologi penentuan hilal. Umat Islam dipersilahkan mengikuti
mana yang diyakini benar. Mengikuti keputusan pemerintah juga merupakan
langkah yang bijak untuk menjawab keragu-raguan dan kebingungan.

Para ulama, imam-imam masjid dan da’i publik selayaknya memberikan
penjelasan kepada masyarakat awam tentang fenomena perbedaan metodologi dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri, termasuk wawasan tentang rukyah dan hisab serta landasan metodologisnya. Ini akan membantu memperluas wawasan masyarakat terhadap masalah perbedaan dan khilafiyah yang wajar terjadi dalam pemahaman agama, sehingga tidak mengarah kepada ketegangan antar umat Islam.

Bagi yang melaksanakan Iedul Fitri lebih dulu, sebaiknya tidak perlu
menyalahkan yang belum iedul fitri dan tidak melakukan tindakan provokatif
yang tidak sehat, seperti sengaja makan dan minum di depan yang masih
puasa demi tujuan provokatif.

Masyarakat hendaknya diberi kebebasan dalam memilih masjid untuk sholat
Ied. Apabila seseorang ikut Idul Fitri hari ini, padahal masjid di dekat
rumahnya melaksanakan sholat Idul Fitri besok, maka ia cukup buka puasa
diam-diam di rumah dan besoknya bisa ikut berjamaah Idul Fitri bersama
masyarakat sekitarnya. Ini seperti orang yang melihat hilal sendirian
tanpa dua orang saksi sehingga pendapatnya tidak dijadikan pijakan oleh
pemerintah.

Mengenai masalah hukum keharaman puasa pada hari Idul Fitri, selayaknya
dikembalikan kepada keyakinan masing-masing dalam menentukan hari Idul
Fitri dan dikembalikan kepada Allah. Allah maha adil dalam menghukumi
amalan hambanya. Tidak perlu membahas siapa yang dosa dan siapa yang
menanggung dosa. Semua kita kembalikan kepada Allah yang maha bijaksana.

Fenomena perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri selayaknya kita angkat sebagai wahana mengembangkan toleransi di antara umat Islam maupun antar umat beragama. Fenomena ini jangan dijadikan pemicu perpecahan umat Islam, namun layaknya dijadikan tauladan bagi kehidupan beragama yang ragam namun tetap menjunjung kebersamaan dan persatuan.

Silaturrahmi dan saling meminta maaf

Kebersihan jiwa yang tercipta oleh ibadah puasa kita selama sebulan penuh
akan lebih sempurna kalau dipoles dengan pembershihan diri dari hak-hak
orang lain. Dosa kita kepada Allah telah kita tebus dengan ibadah dan
taubat selama sebulan penuh, kini saatnya dosa-dosa kita kepada teman dan
saudara kita juga kita hapuskan dengan saling meminta maaf dan saling
mendoakan.

Dalam sebuah hadist riwayat Salman al-Farisi Rasulullah menyatakan : “Seorang muslim ketika bertemu dengan saudaranya seiman, lalu
diambilnya tangan saudara bersalaman, maka dosa-dosa keduanya berjatuhan laksana jatuhnya daun-daun dari pepohonan kering di saat angin berhembus, dosa-dosa keduanya diampuni meskipun sebanyak buih lautan” (H.R. Thabrani).

Pada hari Idul Fitri ini juga saatnya mempererat tali silaturrahmi yang
sudah terjalin dan menyambung tali silaturrahmi yang terputus. Saling
mengunjungi saudara dan sahabat merupakan cara untuk meningkatkan tali
silaturrahmi tersebut.

Mungkin di luar hari raya kita enggan untuk berkunjung ke teman atau sahabat kita karena tidak ada alasan yang tepat, maka di hari Iedul Fitri ini kita manfaatkan untuk seling berkunjung.


Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar