Minggu, 30 September 2012

renungan....

  1. -Rabb
    Ketika kuhamparkan sajadah panjang
    Di naungan kiblat suciMu
    Mengharap kasih Mu
    Dalam mengarungi hidup di dunia
    Tengadahku memohon

    Rabb
    Ketika Tasbih, tahlil dan tahmid
    Menjadi ucapan yang agung
    Untuk mengungkapkan kelemahan diri
    Tapi kenapa hati ini begitu keras bagai batu
    Hitam, pekat dan berlubang
    Jika itu menjadi cerminan diri
    Ternyata hanya keburukan yang tampak
    dihadapanMu

    Rabb
    Ketika ku berjalan menghampiri Mu
    Dalam ketidak berdayaan menghadapMu
    Ternyata cintaku pada Mu tak sempurna
    Karena didalam hatiku
    Masih ada diantara 2 cinta
    Cinta dunia dan cinta pada Mu

    Wahai Pemilik jiwa ini
    Keindahan dunia membuat ku terbuai
    Usiaku bukan untuk Mu
    Usiaku pergi begitu saja
    Meninggalkan sosok yang penuh dengan dosa

    Rabbi
    Keindahan dunia
    Ternyata menutup mata hatiku
    Ternnyata menutup telingaku dari seruanMu
    Ternyata menutup mataku dari peringatanMu

    Ya Allah
    Ampuni hamba yang penuh dengan gelimang
    noda dan dosa,
    Kemunafikan dan keangkuhan diri...
     
     
    Aku bertanya pada alam semesta tentang arti “CINTA”, lalu satu demi satu mereka menjawab…





    Bumi menjawab:

    “CINTA adalah hamparan tempat tumbuh segala bahagia dan harapan akan itu. Ia memang diinjak dan dihinakan, tetapi ia tak peduli. Pikir Cinta hanya memberi, dan itu sajalah inginnya.”





    Air menjawab:

    “CINTA adalah hujan yang menumbuhkan benih-benih rasa kesukaan, kerelaan akan keterikatan, kerinduan dan kesenduan, atau samudera kasih yang luas sebagai naungan segala perasaan





    Api menjawab:

    “CINTA adalah panas yang membakar segala, ia memusnahkan untuk dapat hidup dan menyala. Demi merasakannya, makhluk rela terbakar dalam amarah dan kedurhakaan.”





    Angin menjawab:

    “CINTA adalah hembusan yang menebar sayang tanpa tahu siapa tujuannya. Orang bilang ia buta, sebab itu inginnya. Ia tak terlihat, tapi tanpanya segala raga akan hampa.”





    Langit menjawab:

    “CINTA adalah luasan tanpa batas. Luasnya tiada makhluk yang tahu. Kecuali bahwa cinta itu bahagia yang biru, atau derita kelam yang kelabu





    Matahari menjawab:

    “CINTA adalah hidup untuk memberi energi kehidupan dan cahaya harapan. Ia tak akan lelah memberi sampai ia padam dan mati.”





    Pohon menjawab:

    “CINTA adalah akar yang menopang segalanya. Ia tulus hingga tak perlu terlihat dan dikenal. Tapi ia terus memberi agar batang bahagia tetap kokoh abadi, berbuah dan berbunga indah.”





    Gunung menjawab:

    “CINTA adalah rasa yang menjulang tinggi. Rasa itu demikian tenang dan menyejukkan. Namun saat gundah, Ia akan meleburkan sekelilingnya dengan lautan lava cemburu yang membara.”







    Lalu, Aku bertanya pada CINTA:

    “Wahai CINTA, apakah sebenarnya arti dirimu??”



    CINTA menjawab:

    “CINTA adalah engkau patuh terhadap-Nya, meski kau tak melihat-Nya. Engkau tidak mencium-Nya atau meraba-Nya, tapi engkau patuh karena engkau merasa akan hadir-Nya. Sebab CINTA bukan indera, tapi adalah rasa.”

    “CINTA adalah engkau takut akan amarah-Nya, dan takut jika Ia meninggalkanmu. Takut jika Ia tak menyukaimu lagi. Lalu engkau mencari-cari alasan untuk selalu dekat dengannya, bahkan jika engkau harus menderita, atau yang lebih mengerikan dari itu.”

    “CINTA adalah engkau menyimpan segala harapan pada-Nya dan tidak pada yang lain. Engkau tidak mendua dalam harapan, dan demikian selamanya. Cinta adalah engkau setia menjadi budak-Nya, yang engkau hidup untuk-Nya dan mati untuk kesukaan-Nya akan dirimu, hidup dan mati untuk Dia. Engkau berusaha sekerasnya agar engkau diakui, hanya sebagai budak, sebagai hamba.”



    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    “Diatas segalanya, CINTA adalah engkau merasa kasih sayang yang tunggal yang tidak engkau berikan pada yang lain, selain pada-Nya. Engkau rindu akan hadir-Nya dan melihat-Nya. Engkau suka apa yang Ia sukai dan benci apa yang Ia benci, engkau merasakan segala ada pada-Nya dan segala atas nama-Nya.”



    ♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥



    Aku lantas bertanya pada CINTA:

    “Bisakah aku merasakannya?”



    Sambil berlalu CINTA menjawab:

    “Selama engkau mengetahui hakikat penciptaanmu dan bersyukur dengan apa yang Dia beri, maka itu semua akan kau rasakan, percayalah padaku tambahnya….”





    Aku pun Berteriak, “Wahai KAU SANG MAHA PECINTA terimalah cintaku yang sederhana ini, izinkanlah aku merasakan cintaMu yang Maha Indah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar