Senin, 06 September 2010

materi

Pernyataan:
1. Segumpal daging adalah qalbu
2. Segumpal daging adalah otak
3. Qalbu adalah otak

Hadits Rosululloh tentang QOLBU :

، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّه
أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُأَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً

“Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging (mudhghoh), apabila baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh, dan bila rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah qalbu.”

Al Qur'an Surat Al Mu'minuun [23] ayat 12 - 14 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (Nutfah) (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (Alaqotan), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (Mudhghotan), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang (Idhoman), lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (Lahman). Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Dimanakah letaknya qalbu = fuad = hati? Apa maksudnya hadits nabi yang di atas? Dan apa kaitannya dengan surat Al Mu'minuun [23] ayat 12 - 14 ?dan dimanakah letak segumpal daging? Serta apa yang di maksud segumpal daging tersebut?
Sementara kita berbicara proses pembentukan bayi:
Proses reproduksi manusia dapat kita temui dalam cabang ilmu Biologi yaitu ilmu embriologi dan kedokteran. Ilmu embriologi adalah ilmu yang masih sangat muda, perkembangannya yang amat menyolok terutama setelah ditemukannya miskroskop sekitar tahun 1677. Namun minat terhadap kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan yang berhubungan dengan embrio sudah lama ada, lebih dari dua ribu tahun yang lalu, lewat Aristoteles. la mengamati perkembangan sebuah embrio ayam; akan tetapi tanpa miskroskop ia hanya dapat mengambil kesimpulan yang amat dangkal ditinjau pada masa sekarang. la mengatakan bahwa embrio manusia terbentuk bila cairan sel mani dicampur dengan darah menstruasi. Pada hakekatnya pertimbangannya itu tepat, tetapi ia keliru dalam satu hal; ia mengira bahwa hanya pihak wanita yang menentukan zat embrio sedang pihak pria hanya merangsang pertumbuhannya.
Lima ratus tahun kemudian, dalam abad kedua sesudah masehi, seorang dokter Yunani bernama Galen memberi interpretasi lain yang pada hakekatnya tidak betul, tetapi teryata dipertahankan lebih dari 15 abad. Galen mengembangkan teori yang terkenal dengan nama; “emboitement” yang kurang lebih berarti “dibangun di dalam” atau “pengotakan”. Gambaran teori pengotakan ini adalah ; dalam kotak cairan sel kelamin ibu yaitu sel telur, terdapat embrio utuh (sudah berbentuk manusia) tetapi amat kecil sekali; dan kotak cairan sel kelamin ayah mengakibatkan kotak itu membuka diri dan pertumbuhannya dimungkinkan. Menurut teori ini, setiap bayi seharusnya sudah mengandung seorang bayi lagi yang sudah di bentuk sebelumnya, sebagaimana kotak-kotak Tionghoa disusun, yang satu termasuk ke dalam yang lain.
Pada tahun 1677, setelah diketemukannya miskroskop, Anton Van Leeuwenhoek, seorang sarjana ilmu alam berkebangsaan Belanda, untuk pertama kalinya dapat melihat sebuah sperma atau sel kelamin pria yang hidup, yaitu setetes cairan mani. Dan seorang dokter muda Regnier de Graaf juga orang Belanda, telah mengamat-amati dan melukiskan “sesuatu yang meletus sebagai gelembung air”, waktu ia membuka alat kelamin kelinci betina. Sesuatu itu adalah gugus-gugus sel, tempat terjadinya embrio. Akan tetapi baik de Graaf maupun van Leeuwenhoek tidak dapat memahami apa yang mereka lihat, mereka belum dapat membayangkan bahwa suatu ciptaan berbentuk dapat berkembang dari suatu yang tak berbentuk. Temuan mereka itu untuk sementara belum terpecahkan, sebab pada waktu itu kebanyakan sarjana biologi masih menganut teori emboitement atau teori pengotakan.
Penemuan-penemuan tersebut di atas mengakibatkan sarjana biologi terpecah menjadi dua golongan,yaitu “kaum ovulis” dan “kaum homunkulis”. Hal itu terjadi hampir selama dua abad, dari abad 17 hingga abad 18. Padahal keduanya masih menganut teori pengotakan. Kaum ovulis masih tetap memegang pandangan teori pengotakannya Galen. Kaum homunkulis mengatakan lain: “Manusia dibentuk lebih dulu dalam kepala sperma tidak dalam sel telur”. Untuk mengilustrasikan pendapat itu, mereka membuat gambar yang memperlihatkan sebuah homunkulus, yaitu manusia sangat kecil yang dengan kepala tertunduk dan kaki bersila persis cocok untuk dimasukkan dalam kepala sperma itu. Mereka mengira homunkulus ini dibesarkan di dalam rahim, dan tumbuh di sana seperti dalam peti pengeraman. Baru pada tahun 1759 lewat Kaspar Friedrich Wolf seorang sarjana anatomi, dengan memakai miskroskopnya ia menyelidiki embrio ayam. la menyimpulkan penyelidikannya itu dalam desertasinya yang berjudul “Teori Generationis” (teori tentang mengadakan keturunan). Ia berhasil secara serentak menghapus teori emboitement maupun teori kaum ovulis/ovist dan homunkulis. Teori tadi digantinya dengan dua konsep baru yang tepat, pertama, sebuah tubuh dibangun dan butir-butir sel, dan yang kedua, kedua pihak orangtua menyumbangkan bagian yang sama banyak bagi anak keturunannya. la menduga hal ini, walaupun waktu itu sel telur binatang menyusui belum ditemukan.
Lebih dari lima puluh tahun kemudian van Boer dapat melihatnya diujung pisau laboratoriumnya. la melihat sel telur yang belum matang dari indung telur seekor anjing. Oleh karena itu pada abad ke 19 minat terhadap embriologi diperbaharui dan diperkuat lagi.
Pada abad inilah baru dapat disadari perkembangan embrio secara jelas. Kita adalah generasi yang mengetahui dengan jelas bagaimana kelangsungan perkembangan manusia dari satu sel menjadi seorang individu, yang sebelumnya sudah hidup dan bereaksi terhadap alam sekitarnya. Kita pulalah generasi yang mengenal kejadian-kejadian mulai dari jam-jam dan hari-hari pertama. Sel telur yang matang pada manusia sedang meninggalkan indung telur dilihat untuk pertama kali pada tahun 1930, Mengenai sel-sel orangtua, yaitu terjadinya persenyawaan sperma dan sel telur baru dapat diamati tahun 1944, yaitu empat belas tahun kemudian. Kejadian-kejadian dalam enam hari pertama dalam kandungan diketahui pada tahun 1950-an. Akhirnya dalam tahun 1960-an kita mulai membongkar rahasia susunan dalam sel yang begitu komplek dan yang menurunkan sifat-sifat turun-temurun kita.
Akhirnya konsep reproduksi pada hari ini telah dapat kita ketahui secara jelas sebagai berikut:
Reproduksi manusia terjadi melalui proses-proses yang umum bagi binatang menyusui. Pada permulaannya terjadi pembuahan (fecondantion) dalam saluran telur (tuba fallopii). Yang menyebabkan pembuahan adalah sperma laki-laki (mani). Dari air mani atau sperma yang mengandung berjuta-juta spermatozoa, satu sel benih sudah cukup untuk terjadinya pembuahan dengan sel telur (ovum) dari pihak wanita. Telur yang telah dibuahi akan menetap pada suatu titik tertentu dalam rahim wanita. Telur ini turun sampai ke rahim dan menetap di sana berpegangan dengan selaput lendir dan lengan otot sesudah tersusunnya plasenta. Telur itu akan berkembang dalam rahim menjadi embrio.
Pertama-tama akan terlihat oleh mata biasa, embrio itu terlihat sebagai sepotong daging, lalu akan timbul tulang-tulang sehingga berbentuk manusia. Dan akan dilengkapi dengan perlengkapan lainnya, seperti otot, sistem syaraf, sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh dan lain sebagainya sampai lahir sosok jabang bayi yang sempurna selama kurang lebih 9 bulan. Itulah reproduksi manusia yang telah diperoleh oleh akal pikiran manusia dengan ilmu embriologinya serta dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih di abad mutakhir saat ini.
Telah diketahui bersama bahwa manusia terdiri dari badan (jasmani) dan Ruh (ruhani). Dipandang dari segi jasmaniah, pada dasarnya tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Tetapi jika diperhatikan secara seksama akan ditemukan perbedaan-perbedaan yang mendasar antara keduanya. Di antara perbedaan-perbedaannya adalah, pada manusia untuk melaksanakan tindakan dan perbuatan memerlukan pendidikan atau latihan terlebih dahulu, sedangkan pada binatang semua dilakukan atas dasar naluri. Manusia juga memiliki perasaan rohaniah, seperti suka, duka, dan sebagainya dan juga memiliki kehidupan batin yang nampak pada kesadaran akan diri dan lingkungannya. Dan yang paling penting adalah tumbuh kemampuan berpikir sehingga manusia dapat mempelajari bahasa yang dengannya dapat menyalurkan apa yang ada dalam dirinya (pikiran, perasaan, pengalaman, keinginan) untuk menjalin hubungan di antara anggota masyarakat. Kesemuanya ini tidak dimiliki oleh binatang.
Ilmu pengetahuan juga mengakui bahwa dalam diri manusia ada jiwa. Yang menjadi masalah adalah apakah jiwa itu substansi yang berdiri sendiri ataukah ia hanya merupakan fungsi atau aktifitas jasad dengan organ-organnya? Masalah ini tentu tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan, tetapi dibahas oleh filsafat. Terdapat perbedaan pendapat mengenai jiwa dalam dua cabang filsafat metafisika, yaitu materialisme (serba zat) dan spiritualisme (serba roh). Materialisme beranggapan bahwa hakekat kenyataan yang serba ragam dan serba rupa adalah zat atau materi. Sedangkan spiritualisme beranggapan bahwa hakekat kenyataan adalah roh atau jiwa; Materi bersifat nyata, bentuknya tidak dapat disentuh oleh panca indra.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa menurut ilmu pengetahuan manusia terdiri dari jasad material yang tidak banyak bedanya dengan jasad binatang. Perbedaan yang menonjol hanya nampak pada besar kecilnya volume otak. Tetapi dari segi batiniah terdapat perbedaan yang besar sekali. Manusia memiliki jiwa yang memungkinkan otak berfikir. Memiliki qalbu yang menjadi sumber penghayatan rohaniyah yang dengannya manusia dapat membentuk tata kehidupan sosial yang penuh dengan norma dan aturan.
1. Manusia Makluk Terbaik dan Termulia
Dalam model penciptaan, Allah menciptakan manusia melalui dua proses, yaitu penciptaan langsung (penciptaan Adam) dan penciptaan tidak langsung (proses reproduksi manusia).
Dalam model penciptaan Adam Allah menciptakan manusia dari unsur-unsur tanah yang dibentuk dan air, lalu ditiupkan ruh Allah secara langsung sehingga terciptalah Nabi Adam sebagai manusia pertama. Beberapa unsur tanah yang disebut dalam Alquran adalah seperti berikut:
1) Tiin, yaitu tanah lempung:
  •         
(Tuhan) memulai penciptaan manusia dari tanah lempung. (Q.S. As-Sajadah, 32:7)
Dalam ayat ini, Alquran menyebut kata “badaa” yang berarti “memulai”. Ini menunjukkan adanya awal suatu penciptaan dari tiin. Hal ini jelas bermakna tahap yang lain akan segera mengikuti.
2) Turaab, yaitu tanah gemuk sebagaimana disebut dalam ayat:
                
Kawanmu (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada Tuhan Yang Menciptakan kamu dari tanah (turaab), kemudian dari setetes air mani lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (Q.S. Al-Kahfi, 18:37)
3) Tiinul laazib, yaitu tanah lempung yang pekat (tanah liat):
     •        
Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat (tiinul laazib). (Q.S. As-Saffaat, 37: 11)
4) Salsalun, yaitu lempung yang dikatakan kalfakhkhar (seperti tembikar). Citra di ayat ini menunjukkan bahwa manusia “dimodelkan”.
5) Salsalun min hamain masnuun (lempung dari Lumpur yang dicetak/diberi bentuk):
       • 
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. (Q.S. Al-Hijr, 15: 26)
6) Sulaalatin min tiin, yaitu dari sari pati tanah. Sulaalat berarti sesuatu yang disarikan dari sesuatu yang lain:
             •                        
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (sulaalatin min tiin). Kemudian Kami jadikan saripati air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. Al-Mukminun, 23: 12-14)
7) Air yang dianggap sebagai unsur penting asal usul seluruh kehidupan:
             
Dan Dia (Allah) pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia (Allah) jadikan manusia itu punya keturunan dan musaharah adalah Tuhanmu Mahakuasa. (Q.S. Al-Furqaan, 25: 54)
8) Peniupan Ruh (ciptaan) Allah:
         
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al-Hijr, 15: 29)
              •  
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur. (Q.S. As-Sajdah, 32: 9)
Demikian model penciptaan langsung nabi Adam yang difirmankan Allah dalam Alquran. Manusia menurut Islam berbeda sama sekali dengan makhluk-makhluk lain, manusia adalah makhluk yang paling terbaik dan sempurna dihadapan Allah. Manusia di samping mempunyai jasad, nyawa, nafsu naluri, dan insting, manusia dilengkapi dengan Ruh Allah (ruhani).
Adanya unsur ruhani ini bukan berarti bahwa manusia adalah sebuah organisme yang mempunyai dua unsur jasmani dan ruhani yang masing-masing mempunyai fungsi dan berjalan sendiri-sendiri secara terpisah, melainkan keduanya adalah merupakan satu kesatuan yang terpadu, berjalan berkelindan, tak terpisahkan, berfungsi penuh dan bersama-sama.
Karena kelebihannya itulah manusia memperoleh predikat sebagai makhluk terbaik dan termulia, baik bentuk kejadiannya maupun kedudukannya di alam semesta ini.
      
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. At-Tin, 95: 4)
                  
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka ke daratan dan lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al-Isra, 17: 70)
Dalam model penciptaan proses reproduksi manusia isi ayat-ayat Alquran telah membuka mata pakar dunia di bidang ilmu kedokteran dan embriologi. Mereka terpana akan kesuaian ilmu ilmiah modern yang telah dihasilkan dengan riset-riset mahal dengan wahyu Alquran yang notabene telah ada sejak tahun 500 M yang lalu. Hal ini telah membuktikan kebenaran wahyu Alquran dan agama Islam sebagai pedoman hidup manusia.
               •   
“Hai manusia apakah yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (Q.S. Al- Infithar, 82: 6-8)
Proses terjadinya manusia merupakan fenomena yang baru saja diketahui setelah diketemukannya alat-alat modern yang serba canggih diberbagai segi. Para pakar sains di bidang kedokteran terkejut tatkala mereka menemukan teori-teori proses terjadinya manusia di dalam Alquran yang sangat sesuai dengan hasil yang mereka peroleh setelah melakukan penyelidikan berabad-abad lamanya hingga saat ini.
Lalu apa yang sebenarnya dapat dijelaskan oleh Alquran mengenai proses kejadian manusia?
Proses Kejadian dalam Kandungan
              
“Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.”(Q.S. Al Baqarah 2: 28)
Di manakah kita, ketika kita belum ada, seperti kata ayat Quran di atas? Kalau menurut ilmu yang telah kita dapat, kita pada waktu itu masih berupa unsur-unsur zat asli di dalam tanah (zat-zat anorganis), sedangkan roh kita masih berada di tangan Allah.
Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah akan diserap, baik itu oleh hewan maupun tumbuhan, dan tak terkecuali akan sampai juga kepada manusia, termasuk ayah dan ibu kita. Dalam tubuh ayah, zat-zat tersebut akan terbentuk menjadi sperma, sedang pada ibu akan terwujud ovum (sel telur). Dari kedua benda (sperma dan ovum) inilah nanti akan terwujud sosok manusia yang menakjubkan di dalam rahim ibu.
  •        
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dan apa ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara bagian seksuil daripada lelaki dan perempuan.”(Q.S. Ath Thariq, 86: 6-7)
    •  
“Bukankah ia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan.”
(Q.S. Al Qiyamah, 75: 37)
Mani atau sperma yang terbentuk di dalam tubuh setelah terjadinya persenyawaan antara zat-zat yang terbawa dari makanan dengan unsur-unsur lain di dalam tubuh inilah yang merupakan salah satu bahan terpenting bagi terwujudnya sosok manusia.
Sebelum membicarakan lebih jauh reproduksi manusia di dalam Alquran, kita perlu mengetahui dulu bagaimana proses reproduksi manusia menurut ide-ide ilmu embriologi modern yang telah diperoleh (lihat bab diatas)
Alquran menarik perhatian para ahli mengenai soal-soal reproduksi yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan (facondation).
b. Watak dari zat cair yang membuahi.
c. Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim.
d. Perkembangan embrio di dalam rahim.
Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan.
Alquran mengetengahkan soal ini sebelas kali dalam berbagai surah. Marilah coba kita perhatikan ayat-ayat ini;
        
“Dia telah menciptakan manusia dari nutfah, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.”(Q.S. An Nahl, 16: 4)
Kata nutfah dalam ayat ini berasal dari akar kata yang artinya “mengalir”. Kata ini dipakai untuk menunjukkan air yang ingin tetap dalam wadahnya, sehingga sesudah wadah itu dikosongkan. Jadi kata tersebut menunjukkan setetes kecil yang dalam hal ini berarti setetes air sperma (mani), karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma.
    •  
“Bukankah ia dahulu dari setetes mani (sperma) yang ditumpahkan.”
(Q.S. Al Qiyamah, 75:37)
Dalam ayat lain setetes itu ditempatkan dalam tempat yang tetap atau kokoh yang dinamai rahim.
     • 
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (sperma) (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (Q.S. Al Mu’minun, 23:13)
Inilah ayat-ayat Quran yang menunjukkan ide tentang setitik cairan yang diperlukan untuk pembuahan, hal ini sesuai tepat dengan sains yang telah kita ketahui sekarang.
Watak dari zat cair yang membuahi
Alquran menunjukkan cairan yang memungkinkan terjadinya pembuahan dengan watak-watak atau sifat yang perlu dicermati,
- Sperma (seperti yang baru dibicarakan)
- Cairan yang terpancar (Q.S. Ath Thariq, 86:6)
- Cairan yang hina (Q.S. Al Mursalaat, 77: 20)
- Cairan yang bercampur/amsyaj (Q.S. Al Insan, 76:2)
Watak cairan yang terakhir perlu digaris bawahi, karena mengandung suatu hal yang menakjubkan yang perlu kita ketahui dan mengerti.
         • 
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes nutfah yang bercampur.., (QS Al Insan, 76:2)
Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah dan juga ahli-ahli tafsir kuno yang mereka itu belum memiliki ide sedikit pun tentang fisiologi pembuahan, mereka mengira bahwa kata “campuran” itu hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita.
Tetapi ahli tafsir modern seperti penulis Muntakhab yang diterbitkan Majelis Tinggi soal-soal Islam di Kairo mengoreksi cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa setetes sperma itu banyak mengandung unsur-unsur. Suatu keterangan yang sangat tepat, walaupun mereka tidak memberikan perinciannya. Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu? Cairan sperma mengandung unsur-unsur yang bermacam-macam yang berasal dari kelenjar-kelenjar sbb;
- Tetis, buah pelir yang mengeluarkan spermatozoa yaitu sel panjang berekor dan berenang dalam cairan serolife.
- Kantong-kantong benih (besicules seminutes). Organ ini merupakan tempat menyimpan spermatozoa, juga mengeluarkan cairan, tapi tak bersifat membuahi.
- Prostat, mengeluarkan cairan yang memberikan sifat krem serta bau khusus kepada sperma.
- Kelenjar Cooper/mery, mengeluarkan cairan yang lekat.
- Kelenjar letre, yang mengeluarkan semacam lendir.
Inilah unsur-unsur campuran yang dimaksud dalam Alquran.
Betapa menakjubkan, Alquran memberikan hal-hal yang harus diketahui dengan alat-alat modern pada saat ini, yang tidak mungkin diketahui orang-orang pada waktu Alquran diturunkan 15 abad silam. Ini membuktikan bahwa Tuhan yang menguasai jagat inilah yang menurunkan kitabNya kepada manusia sebagai petunjuk dan bukti akan kebenaran yang Mutlak.
Satu lagi para sarjana yang mencoba mempelajari Alquran dibuat kagum dan dengan tulus mereka menyatakan beriman Islam, yaitu bunyi suatu ayat dalam Q.S. As Sajadah, 32: 8;
      • • 
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.”
Yang dimaksud saripati di ayat ini adalah suatu bahan yang dikeluarkan atau keluar dari bahan yang lain dan merupakan bagian yang terbaik (terpilih) daripada bahan itu (sperma). Yang lebih jelasnya adalah; yang menyebabkan terjadinya pembuahan (sehingga tercipta manusia) pada sel telur (ovum) pada pihak wanita, adalah satu bagian yang berupa sebuah sel panjang yang besarnya kurang lebih 1/10.000 mm. Satu dari beberapa juta sel yang serupa di dalam setetes sperma yang dihasilkan seorang lelaki.
Sejumlah yang sangat besar tetap di jalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke sel telur di dalam rongga rahim (uterus dan trompe).
Bagaimana kita tidak terpukau oleh persesuaian antara teks Alquran dengan ilmu pengetahuan ilmiah yang kita miliki sekarang ini (abad modern)!
Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim
Telur yang telah dibuahi dalam “trompe” turun bersarang di dalam rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan “bersarangnya telur”. Quran menamakan uterus tempat telur dibuahkan itu rahim (kata jamaknya arham).
وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى
“Dan kami tetapkan dalam rahim apa yang kami hendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” (Q.S. Al Hajj, 22: 5)
Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villi), yakni perpanjangan telur yang akan mengisap dari dinding rahim zat yang perlu bagi membesamya telur, seperti akar tumbuh-tumbuhan yang masuk dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur di dalam rahim. Pengetahuan hal ini baru diperoleh manusia pada zaman modern saat ini.
Pelekatan ini disebutkan dalam Alquran 5 kali, salah satunya ada dalam Q.S. Al Alaq, 96: 2,
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
“Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.”
“Sesuatu yang melekat” adalah terjemahan kata bahasa arab ‘alaq. Ini adalah arti yang pokok. Arti lainnya adalah gumpalan darah yang sering disebutkan dalam terjemahan Alquran. Ini adalah suatu kekeliruan yang harus kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap gumpalan darah. Ada lagi terjemahan ‘alaq yaitu lekatan (adherence) yang juga merupakan kata yang tidak tepat. Arti pokok yaitu “suatu yang melekat” sesuai sekali dengan temuan sains modern. Secara lebih jelasnya adalah sebagai berikut;
Setelah pembuahan antara sperma dengan ovum, kedua sel tersebut akan membelah dari 1,2,4,8,16 dan seterusnya secara cepat sekali. Enam atau tujuh hari setelah pembuahan sel yang banyak menyerupai gelembung kecambah ini menetap dan bersarang pada dinding dalam uterus, yang rupanya seperti bunga karang atau selapis karet busa. Kejadian yang sangat penting ini disebut “nidasi” atau implantasi, maksudnya penyarangan atau penanaman. Selama proses nidasi ini, beberapa pembuluh yang sangat halus dalam jaringan sel sang ibu dibuka. Sisa jaringan yang rusak dan tetes darah kecil yang keluar merupakan makanan untuk sel-sel yang sedang berkembang. Sel-sel ini mengisap makanan dengan cara sama seperti tumbuh-tumbuhan mengisap makanan dari tanah lembab.
Memang, “alaq atau sesuatu yang melekat ini akan dengan segera mengeluarkan semacam jaringan akar-akar yang halus sekali, yang disebut “villi”. Guna akar-akar ini selain untuk menerima zat makanan, juga supaya ‘alaq ini dapat mengikatkan diri dengan kokoh di dalam rahim. Di dalam dinding-dinding inilah ‘alaq akan berkembang mengalami metamorfbrse yang amat dasyat. Tak lama lagi ‘alaq ini makin lama makin berkembang dan besar. Dan berubah setiap jam menjadi apa yang jelas-jelas sebagai makhluk manusia yang mempunyai kepala, tubuh, tangan, kaki, jari-jari, mata, telingan dan hidung.
Ide tentang sesuatu yang melekat (‘alaq), disebutkan di beberapa ayat yang lainnya. Misalnya sebagai berikut;
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat).”(Q.S. Al Mu’minun 23:14)
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari ‘sesuatu yang melekat’. “(Q.S. Al Mu’min 40:67)
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى
ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى
“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi ‘sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempumakannya.”(Q.S. al Qiyaamah 75: 37-38)
Persesuaian ini sungguh menambah iman kepada Allah dan kitab-Nya yang diturunkan kepada Muhammad.
Perkembangan embrio dalam rahim.
Semua hal yang telah disebutkan oleh Alquran di atas telah diketahui oleh manusia saat ini, dan tidak mengandung sedikitpun hal-hal yang dapat dikritik oleh sains. Sekarang kita mulai membicarakan mengenai tahap-tahap perkembangan embrio di dalam rahim.
Setelah kata “sesuatu yang melekat” (‘alaq) yang telah kita lihat kebenarannya, Alquran menyatakan bahwa embrio melalui tahap; secuil daging (seperti daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi oleh daging (diterangkan dengan kata lain berarti daging segar).
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ
أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu Kami jadikan sesuatu yang melekat itu secuil daging dan secuil daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(Q.S. Al Mu’minun 23:14
Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa arab “mudlghah“, daging (seperti daging segar) adalah terjemahan kata “lahm“. Perbedaannya perlu digarisbawahi, embrio pada permulaannya merupakan benda yang nampak kepada mata biasa, dalam tahap tertentu daripada perkembangan sebagai daging yang dikunyah. Sistem tulang berkembang pada benda tersebut di dalamnya, yang dinamakan “mesenbyme“. Tulang yang sudah terbentuk dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksud kata “lahm“.
Dalam perkembangan embrio, ada beberapa bagian yang muncul yang tidak seimbang proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap seimbang. Bukankah arti bahasa arab “mukhallaq” adalah dibentuk dengan proporsi seimbang?, yang dipakai dalam ayat 5 surat Al Maaidah disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini?
Alquran juga menyebutkan munculnya panca indera dan hati (perasaan, afidah)
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati.” (Q.S. As-Sajadah 32: 9)
Terbentuknya seks juga disebutkan dalam Quran surah Faathir ayat 11 dan surah Al Qiyamah 39 juga surah An Najm 45-46 sebagai berikut;
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى
مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى
“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari mani yang dipancarkan.”(Q.S. An Najm 53: 45-46)
2. Ruh dan nafs
Ruh adalah salah satu komponen penting yang menentukan ciri kemanusiaan manusia. Setelah proses-proses fisik berlangsung dalam penciptaan manusia, pemasukan ruh menjadi unsur penentu yang membedakan manusia dengan dunia hewan. Sebagaimana banyak dari aspek fisik manusia yang hakikatnya belum diketahui manusia, ruh merupakan misteri besar yang dihadapi manusia.
                   
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempumakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah. kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Q.S. Saad, 38:71-72)
               
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Q.S. Al-Israa, 17:85)
Ruh adalah getaran ilahiah yaitu getaran sinyal ketuhanan sebagaimana rahmat, nikmat, dan hikmah yang kesemuanya sering terasakan sentuhannya, tetapi sukar dipahami hakikatnya. Sentuhan getaran rohaniah itulah yang menyebabkan manusia dapat mencerna nilai-nilai belas kasih, kejujuran, kebenaran, keadilan dan sebagainya.
Istilah nafs banyak tersebar dalam Alquran. Meski termasuk dalam wilayah abstrak yang sukar dipahami, istilah nafs memiliki pengertian yang sangat terkait dengan aspek fisik manusia. Gejolak nafs dapat dirasakan menyebar ke seluruh bagian tubuh manusia karena tubuh manusia merupakan kumpulan dari bermilyar-milyar sel hidup yang saling berhubungan. Nafs bekerja sesuai dengan bekerjanya sistem biologis manusia.
                      •      
“Allah memegang jiwa (nafs) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia, tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Az-Zumar, 39:42)
Hubungan antara nafs dan fisik manusia demikian erat meski sukar untuk diketahui dengan pasti bagaimana hubungan itu berjalan. Dua hal yang berbeda, mental dan fisik, dapat menjalin interelasi sebab akibat. Kesedihan dapat menyebabkan mata mengeluarkan cairan, kesengsaraan membuat badan kurus. Dikenal pula istilah psikosomatik, yaitu penyakit-penyakit fisik yang disebabkan oleh masalah kejiwaan.
Perpisahan antara nafs dan fisik disebut maut dan ini adalah peristiwa yang paling misterius dalam kehidupaan manusia sebelum ia menjumpai peristiwa-peristiwa lainnya di dunia yang lain pula.
…وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ…
“… alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim, (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): Keluarkanlah nafs-mu…” (Q.S. Al-An’aam, 6:93)
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap nafs akan merasakan mati.” (Q.S. Ali Imran, 3:185)
3. Fitrah manusia: Hanif dan potensi akal, qalb dan nafsu
Kata fithrah (fitrah) merupakan derivasi dari kata fatara, artinya ciptaan, suci, dan seimbang. Louis Ma’ruf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) menyebutkan bahwa fitrah adalah sifat yang ada pada setiap yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia, agama, sunnah.
Menurut imam Al-Maraghi (1974: 200) fitrah adalah kondisi di mana Allah menciptakan manusia yang menghadapkan dirinya kepada kebenaran dan kesiapan untuk menggunakan pikirannya.
Dengan demikian arti fitrah dari segi bahasa dapat diartikan sebagai kondisi awal suatu ciptaan atau kondisi awal manusia yang memiliki potensi untuk mengetahui dan cenderung kepada kebenaran (hanif). Fitrah dalam arti hanif ini sejalan dengan isyarat Alquran:
         ••             ••   
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum, 30: 30)
Fitrah dalam arti penciptaan tidak hanya dikaitkan dengan arti penciptaan fisik, melainkan juga dalam arti rohaniah, yaitu sifat-sifat dasar manusia yang baik. Karena itu fitrah disebutkan dalam konotasi nilai. Lahirnya fitrah sebagai nilai dasar kebaikan manusia itu dapat dirujukkan kepada ayat:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Q.S. Al-A’raaf, 7: 172)
Ayat di atas merupakan penjelasan dari fitrah yang berarti hanif (kecenderungan kepada kebaikan) yang dimiliki manusia karena terjadinya proses persaksian sebelum digelar ke muka bumi. Persaksian ini merupakan proses fitrah manusia yang selalu memiliki kebutuhan terhadap agama (institusi yang menjelaskan tentang Tuhan), karena itu dalam pandangan ini manusia dianggap sebagai makhluk religius. Ayat di atas juga menjadi dasar bahwa manusia memiliki potensi baik sejak awal kelahirannya. la bukan makhluk amoral, tetapi memiliki potensi moral. Juga bukan makhluk yang kosong seperti kertas putih sebagaimana yang dianut para pengikut teori tabula rasa.
Fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia tersebut dapat dikelompokkan kepada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi rohaniah.
Potensi fisik manusia telah dijelaskan pada bagian yang lalu, sedangkan potensi rohaniah adalah akal, qalb dan nafsu. Akal dalam pengertian bahasa Indonesia berarti pikiran, atau rasio. Harun Nasution (1986) menyebut akal dalam arti asalnya (bahasa Arab), yaitu menahan, dan orang ‘aqil di zaman jahiliah yang dikenal dengan darah panasnya adalah orang yang dapat menahan amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Senada dengan itu akal dalam Alquran diartikan dengan kebijaksanaan (wisdom), intelegensia (intelligent) dan pengertian (understanding). Dengan demikian di dalam Alquran akal diletakkan bukan hanya pada ranah rasio tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu jika akal diartikan dengan hilunah atau bijaksana.
Al-qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berubah, berpindah atau berbalik dan menurut Ibn Sayyidah (Ibn Manzur: 179) berarti hati. Musa Asyari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan dan arif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. Keduanya merupakan kesatuan daya rohani untuk dapat memahami kebenaran sehingga manusia dapat memasuki suatu kesadaran tertinggi yang bersatu dengan kebenaran Ilahi.
Adapun nafsu (bahasa Arab: al-hawa, dalam bahasa Indonesia sering disehat hawa nafsu) adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dengan dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas. Dengan nafsu manusia dapat bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Kecenderungan nafsu yang bebas tersebut jika tidak terkendali dapat menyebabkan manusia memasuki kondisi yang membahayakan dirinya. Untuk mengendalikan nafsu manusia menggunakan akalnya sehingga dorongan-dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Agar manusia dapat bergerak ke arah yang jelas, maka agama berperan untuk menunjukkan jalan yang akan harus ditempuhnya. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada pada jalur yang ditunjukkan agama inilah yang disebut an-nafs al-mutmainnah yang diungkapkan Alquran :
 • •      •       • 
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (Q.S. Al-Fajr, 89:27-30)
Dengan demikian manusia ideal adalah manusia yang mampu menjaga fitrah (hanif)-nya dan mampu mengelola dan memadukan potensi akal, qalbu, dan nafsunya secara harmonis.
1. Segumpal daging adalah jantung
Menurut Musa Asyari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung.
Dikatakan juga oleh Imam Ghazali bahwa hati (Qalb) mempunyai dua makna. Makna pertama ialah hati sebagai bagian dari anggota tubuh manusia, serupa daging yang disebut jantung, terletak di dalam rongga dada.

2. Segumpal daging adalah otak
Kesuksesan itu lebih dari 80 persen ditentukan oleh otak kanan, lantaran tak tercerainya antara otak kanan dengan EQ. Sedangkan otak kiri, di sinilah IQ berpusat.
Akan tetapi, bukankah dunia ini menuntut keseimbangan? Itu betul! Betul sekali! Makanya, pemimpin yang kanan, pengikut yang kiri. Pengusaha yang kanan, karyawan yang kiri. Orang kaya yang kanan, orang miskin yang kiri. Generalis yang kanan, spesialis yang kiri. Marketer yang kanan, akuntan yang kiri. Imbang ‘kan?
Dalam mendalami spiritual marketing sering sekali kita menemukan dualisme otak dan hati. Sebenarnya, yang biasa Anda sebut-sebut dengan ‘otak’ itu adalah otak kiri. Inilah otak kognitif, otak yang berpikir, otak yang erat kaitannya dengan IQ, dan otak yang menentukan 20 persen kesuksesan. Selanjutnya, yang biasa Anda sebut-sebut dengan ‘hati’ itu adalah otak kanan. Inilah otak afektif, otak yang merasa, otak yang erat kaitannya dengan EQ, dan otak yang menentukan 80 persen kesuksesan.
Jadi, otak kananlah –bukan organ tubuh bernama hati atau jantung– yang merasakan kegembiraan, kesedihan, kecemburuan, dan jenis-jenis perasaan lainnya. Menariknya, untuk setiap jenis perasaan, otak memancarkan frekuensi tersendiri dan dapat diukur. Sekiranya agama dan budaya menyebut-nyebut ‘hati’, maka itu adalah kiasan. Bukan organ tubuh bernama hati atau jantung yang sesungguhnya.
Mari kita lihat kenyataan. Tidak sedikit orang yang dioperasi dan diganti hatinya. Terus, apa yang terjadi? Ternyata orang itu tidak meninggal dan tidak berubah sifat-sifatnya. (Dahlan Iskan, salah satunya.) Tidak sedikit orang yang dioperasi dan dicangkok jantungnya. Terus, apa yang terjadi? Ternyata orang itu tidak meninggal dan tidak berubah sifat-sifatnya. Nah, adakah orang yang dioperasi dan diganti otaknya? Andai itu benar-benar terjadi, dapat dipastikan ia akan meninggal seketika.
Secara biologis, hati dan jantung manusia tidak jauh berbeda dengan kera dan mamalia manapun. Namun otak manusia jelas-jelas berbeda dengan kera dan mamalia manapun. Secara biologis pula, otak itu adalah raja yang mengatur kerajaan tubuh. Tidak terkecuali mengatur hati dan jantung.
Lagi pula, ilmiah terbukti bahwa God-Spot yang identik dengan nurani itu berada di otak. Bukan di hati, bukan pula di jantung. Lebih lanjut, bersujud adalah simbol kehambaan manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Karena itulah, Yang Maha Kuasa memerintahkan manusia untuk mensujudkan kepalanya (baca: otaknya). Bukan hatinya, bukan pula jantungnya. Yang Maha Kuasa juga menempatkan hampir seluruh panca indera dekat dengan otak. Bukan dengan hati, bukan pula dengan jantung.
Ada sebuah kutipan yang berbunyi, “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Apabila segumpal ini baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila segumpal ini rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” Sekali lagi, yang dimaksud ‘hati’ di sini adalah kiasan. Karena yang dimaksud ‘hati’ di sini adalah otak, termasuklah otak kanan. Otak kanan juga dapat dengan mudah ketika kita ingin menyambut kehadiran Allah, dengan mudah merasakan apa yang ada di sekitarnya, biasanya otak kanan ini membawa kita pada seni kehidupan tinggi dengan berspiritual dan juga mudah untuk mengolah hati.Para ahli-ahli yang menyatakan bahwa ‘hati’ itu adalah makna majasi bukan hakiki.
Bukankah orang itu waras atau tidak, tergantung akalnya (baca: otak)? Bukankah orang itu mabuk atau tidak, tergantung akalnya (baca: otak)? Bukankah orang itu dihisab atau tidak, tergantung akalnya (baca: otak)? Bukankah orang itu jahat atau tidak, tergantung akalnya (baca: otak)? Bukankah orang itu diganjar pahala atau tidak, tergantung akalnya (baca: otak)? Bukankah orang itu diganjar surga atau tidak, tergantung akalnya (baca: otak)?
Lebih jauh, bukankah orang itu sehat atau tidak, tergantung mindset-nya (baca: otak)? Bukankah orang itu bahagia atau tidak, tergantung mindset-nya (baca: otak)? Bukankah orang itu sukses atau tidak, tergantung mindset-nya (baca: otak)? Dan benarlah, semuanya tergantung pada segumpal daging yang bernama otak. Apabila segumpal ini baik, maka baiklah seluruh tubuh, baiklah seluruh aspek kehidupan. Sesuai dengan Hadits Rosululloh tentang QOLBU :

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً ، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging (mudhghoh), apabila baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh, dan bila rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah qalbu.”
3. Segumpal daging adalah qalbu

Bahwa keberadaan hati itu berada di wilayah dada manusia, tepatnya di jantung. Secara naluriah kita sering menunjukkan dada kita dalam mengungkap rasa yang muncul pada saat kita marah, sedih dan bahagia. Kita gambarkan jantung hati jiwa ruh bathin.
Dalam pemahaman spiritualitas Islam wilayah bathin adalah wilayah makrifat, wilayah yang sangat suci, di mana di dalam bathin itu sendiri hanya ada kebaikan yang menjadi penghubung antara kita dengan dimensi Ketuhanan. Seperti yang sering kita dengar “Kenalilah dirimu maka engkau akan mengenali Tuhanmu”. Ada Nur Tuhan yang berdiam di sana, yang di mana sering disebut Nur Ilahi, Nur yang menghidupkan. Nur/Cahaya ini adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kasar kita, hanya mampu kita rasakan di wilayah hati, jiwa dan bathin kita. Sebagaimana kita ketahui , sesungguhnya kita adalah berasal dari Tuhan yang pada awalnya berbentuk cahaya lalu berputar berbentuk ruh, di mana ruh itu sendiri hidup dalam dimensi Tuhan. Pada saat Tuhan meniupkan ruh itu dalam tubuh manusia maka tertutuplah hijab (tirai) kita dengan Tuhan karena keberadaan tubuh fisik kita sehingga menjadi terbatas pandangan kita, pendengaran kita karena otak yang mewakili fisik kita hanya mampu merekam apa yang dilihat oleh mata dan apa yang didengar oleh telinga. Satu hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa manusia itu terdiri dari 2 (dua) dimensi , lahiriah dan batiniah. Lahiriah mempunyai matanya sendiri dan batiniah juga mempunyai matanya sendiri yang biasa kita sebut mata bathin. Bisa kita katakan bahwa lahiriah memiliki panca indera dan bathin memiliki indera.
Seperti peristiwa yang terjadi di Gua Hira pada masa Rasulullah menerima wahyu pertama kali melalui Malaikat Jibril, di mana Rasulullah diperintahkan untuk membaca ‘iqra , ‘iqra, ‘iqra bacalah atas nama Tuhanmu. “Aku tidak bisa membaca” kata Rasulullah. Berulang-ulang Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah membaca ‘iqra. Berkali-kali pula Rasulullah mengatakan “Aku tidak bisa membaca”. Akhirnya Malaikat Jibril meletakkan tangannya di dada Rasulullah, seketika itu Rasulullah terbuka mata bathinnya sehingga mampu mengikutinya walaupun dengan tubuh bergetar.

Kita juga mengingat peristiwa yang terjadi pada Rasulullah pada saat dibelah, dibersihkan oleh Malaikat Jibril. Bagian manakah yang dibelah ? Bukankah yang dibelah dan dibersihkan itu adalah dadanya. Kenapa bukan otaknya ? Tentulah ada jawaban, ada makna yang bisa kita fahami. Di sini ada pelajaran yang bisa kita petik bahwa apa yang dimaksud dengan Hadits Rosululloh tentang QOLBU :

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً ، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging (mudhghoh), apabila baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh, dan bila rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah qalbu.”
Dia merujuk pada wilayah dada tepatnya jantung, makanya jantung mempunyai peranan yang sangat penting dalam tubuh manusia apabila jantung kita berhenti berdetak tentulah berhenti kehidupan kita ( karena ada dimensi yang Maha Menghidupkan/Nur Ilahi di dalam jantung kita ) tetapi kalau terjadi kerusakan pada otak, tidak mutlak manusia itu akan meninggal. Yang banyak terjadi manusia akan mengalami koma. Kalau kita bicara mana yang lebih penting antara otak dan jantung ? Kita kembali pada diri kita masing-masing. Pada hakekatnya otak kita baik kanan maupun kiri adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Otak kanan tidak akan hebat tanpa otak kiri, otak kiri juga tidak akan hebat tanpa otak kanan. Sehebat apapun otak itu, secerdas apapun tidak akan berfungsi apa-apa tanpa jantung karena semua saling melengkapi.
Di sini kita perlu kesadaran akan semua ini sesuai dengan fungsinya dan hakikatnya masing-masing.
Dalam konteks sufisme, yang dimaksud qalbu atau hati bukanlah pengertian secara fisik yaitu segumpal daging yang berada dekat pusat atau liver, yang berfungsi untuk mengedarkan darah. Bukan pula suatu yang beredar dalam dada seseorang. Ia bukanlah hati yang merupakan organ intuisi supra rasional yang berhubungan dengan lathifah rabbaniyyah, yaitu sesuatu yang halus di dalam sosok manusia yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah. Jadi, apa yang berdebar di dalam dada seseorang yang acapkali didekap-dekap sambil dibisiki: “Hatiku, hatiku, hatiku,” menusut terminologi sufi ia bukanlah merupakan hati sebenarnya.
Dikatakan oleh Imam Ghazali bahwa hati (Qalb) mempunyai dua makna. Makna pertama ialah hati sebagai bagian dari anggota tubuh manusia, serupa daging yang disebut jantung, terletak di dalam rongga dada. Makna kedua ialah sebagai lathifah rabbaniyyah yang merupakan daya kemampuan manusia yang diberikan Allah Swt. untuk mengetahui, memahami dan menguasai seluk beluk sesuatu.
Musa Asyari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan dan arif.
Bahwa di dalam tubuh manusia yang kecil ada sebuah alam yang luasnya melebihi alam jagad raya ini, yaitu hakikatnya hati seorang al’arif billah. Diriwatkan dalan hadis qudsi, Allah Azza wal Jalla berfirman : “Bumi dan langit tidak akan mampu menampung-Ku, dan hanya hati orang-orang yang beriman sajalah tempat-Ku bersemayam.”
Maka ketika Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang di mana Allah berada, apakah di bumi atau di langit. Jawab beliau, “Dia berada di hati hamba-hamba-Nya yang berimam.”
Tentu, keluasan makna ini merujuk kepada keadaan hati yang suci yang dimiliki oleh golongan ‘arifin. Di mana hati yang suci itu bisa digambarkan laksana sebuah negeri yang makmur dan subur, dihiasi taman yang penuh berkah, mata airnya tak pernah keing, kenikmatannya tak pernah habis, dan pohonnya terus berbuah tak mengenal batas musim. Dengan begitu, orang yang selalu memperhatikan kesucian hatinya, menjaga dan memdidiknya dengan baik, maka rohnya akan tetap muda, perasaannya lembut, dan penampilan pun akan ceria dan bergairah. Namun, hati baru akan bisa tenang dan istiqomah manakala ia terus disirami dengan percikan-percikan iman melalui amal ibadah yang mudawamah (tidak berkeputusan). Dan juga hati itu akan lebih hidup manakala ia selalu berada dalam dzikrullah dan mulazamah di dalam melakukan mujahadtrun nafsi, serta tekun melakukan tazkiyah,yakni membersihkan hati dari segala kotoran dan penyakit hati. Disamping itu, akan merasa sedih dan kecewa bila tidak mampu melaksanakan hal-hal yang baik dan terpuji, dan juga akan menyesal manakala melakukan hal-hal yang salah dan tercela.
Hakikat hati nurani manusia adalah berasal dari nur Ilahiyah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya (nur)-Nya siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An Nur:35)
Sejahat apapun manusia yang selalu menuruti hawa nafsunya, namun dalam hati nuraninya akan tetap jujur untuk menyadari kesalahan dirinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar