Selasa, 12 Februari 2013

Agar Anak Gemar Menghapal Al-Qur'an


Siapa yang tak ingin memiliki anak seorang penghapal Quran?? Tak hanya cerdas secara intelektual saja, namun cerdas yang sesungguhnya dengan nilai Qurani yang tertanam lekat di setiap langkah hidupnya. Ya, merekalah generasi harapan bangsa ini. Merekalah generasi harapan dunia.

Mewujudkan mimpi memiliki generasi yang cinta Qu’ran adalah hal yang mulia. Hal tersebut nihil tercapai manakala mimpi itu tiada diazamkan sejak dini, dan tidak diri sendiri, Ya, pasti kita tak lupa pada sosok keluarga teladan Ustadzah Wiwirianingsih dengan 10 Bintang Penghapal Qurannya. Meski saya atau Anda masih berada pada jangka jauh memiliki anak namun tak ada salahnya mempersiapkan ilmunya sedini mungkin. Berhasil merancang atau mempersiapkan sama dengan mempersiapkan keberhasilan, bukan?

Bermula dari sebuah ayat sederhana di QS. Al Qamar ayat 17, “Dan telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Ternyata, ayat dengan redaksi yang sama persis Allah ulang sebanyak 4 kali. Selain di ayat 17, di surat yang sama, termaktub pula di ayat 22, 32, dan 40. Penegasan yang mantap dari Allah ta’ala. Pun dinyatakan pula oleh baginda Rasul bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya.

Saya terinspirasi oleh workshop Quran Learning for Children yang diselenggarakan Rumah Qurani. Agenda yang berlangsung pada 22-23 Juni di Wisma Telkomsel ini membuka tabir pengetahuan saya betapa mimpi memiliki generasi penghapal Quran adalah amat tepat. Anak, tak lagi diragukan potensi yang Allah anugerahkan pada mereka. Masa golden age hingga kisaran 3 tahun menjadi titik penentu terpenting bagi orang tua dalam proses suksesi pendidikan anak mereka. Nah, pada saat inilah internalisasi nilai dan pembelajaran Quran sangat tepat diterapkan.

Mengajarkan Quran pada anak kuncinya ada pada satu hal. Dikatakan oleh Adhi Fikri, sang penyaji, yang terpenting adalah anak merasa senang terlibat (engage happily) di dalamnya. Menumbuhkan rasa senang itu dapat ditempuh melalui cerita. Ya, cerita menjadi media efektif penanaman dan pengajaran Quran pada anak. Pembacaan cerita menurut Englehert (2011) adalah sebuah seni. Pembacaan cerita menjadi aktivitas yang sangat baik bagi anak. Collins dalam Isbell (2004) menyatakan bahwa pembacaan cerita pada anak memberikan keteladanan bahasa dan pemikiran yang dapat mereka contoh. Maka tak heran, hingga usia kita yang telah memasuki kepala dua, tiga, bahkan lima puluhan masih saja ada sepenggal memori tentang kisah yang dibawakan saat kita kecil dahulu.

Adhi Fikri yang merupakan pendiri Rumah Qurani benar-benar menerapkan teori yang dikemukakan di atas. Bermula dari sebuah garasi yang mungil, ia mendidik anak-anak Rumah Qurani dengan kisah atau cerita. Tak ada tekanan apapun pada anak untuk menghapal ayat-ayat Quran. Dengan sendirinya, setelah anak antusias untuk mendengar cerita yang Adhi bawakan maka mereka menghapal bahkan lebih luar biasa dari ekspektasinya. Anak yang berada di bawah bimbingan Rumah Quran mampu memvisualisasikan ayat dengan sangat baik. Mereka memang diajarkan metode menghapal Quran dengan isyarat. Metode ini menuntun anak untuk memvisualisasikan ayat lewat gerak kinestetik atau motorik. Saat metode ini diaplikasikan, maka kerja menghapal menjadi lebih mudah lantaran otak kanan berperan lebih aktif dalam proses ini.

Adhi Fikri yang telah membina anak untuk menghapal Quran melalui cerita telah berkiprah selama 11 tahun di dunia itu. Kemahirannya untuk menarik perhatian anak, memerankan karakter dalam ayat, bernain suara, dll membuat potensi menghapal Quran anak melejit dengan sempurna. Anak-anak ia ajak untuk terlibat aktif secara verbal, emosi bahkan fisik (gerak) dalam penuturan cerita ayat Quran. Dan lagi, ia pun mulanya dikejutkan dengan akselerasi hapalan anak yang melesat tajam. Anak yang ia bimbing pun mampu dengan cepat menyebutkan bunyi ayat saat pengetesan hapalan Quran secara acak. Anak juga mampu mentasmi’ hapalan Quran terbalik (dari ayat akhir menuju awal). Hal ini semakin membuat takjub akan kekuasaan Allah yang anugerahkan kecerdasan pada anak.

Maka tak ada lagi beralasan untuk tidak menerapkannya. Saatnya, kita menyiapkan dan mencetak generasi Rabbani dengan jiwa-jiwa Qur’an sejak dini. Semoga dari tangan dan rahim para muslimah Indonesia lahir generasi hafiz & hafizah yang menjadi pemimpin dan rahmat bagi semesta alam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar