Selasa, 12 Februari 2013

konsep generasi yang qur’ani


Yang pertama mari kita sama sama memperbaiki keturunan kita dengan cermat Memilih calon pasangan hidup yang sesuai dengan konsep islam.seperti sabda rasulullah yang artinya:
             “nikahilah oleh mu perempuan dengan empat kriteria,yaitu yang pertama karena   kecantikanya,yang kedua karena hartanya,ketiga karena keturunanya,dan yang ke empat karena agamanya,jika tidak menemukan yang ke tiga itu maka pilih lah yang kuat agamanya karena itu lebih baik bagimu”)HR.Bukhori Muslim)


seperti pepatah pula mengatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.untuk trik ke dua cara mencetak generasi yang qur’ani adalah Membina rumah tangga yang harmonis(sakinah,mawaddah,warahmah) ketika membina rumah tangga yang harmonis maka akan terlahir generasi yang baik,kenapa? karena tidak sedikit anak yang kurang perhatian orang tua maka mempengaruhi pada pola pikir anak.untuk itu mari buu,pak kita sama sama saling menjaga dan menghargai karakter isttri atau suwami masing masing demi terciptanya generasi yang qur’ani,yu kita rubah kebisaan yang kurang nyaman untuk kita dan  keluarga,untuk langkah selanjutnya dalam rangka terwujudnya generasi yang qurani adalah Mendidik anak untuk mengenal ketauhidan (mengenal allah) cara ini sudah di contohkan oleh rasulullah SAW,ketika memperkenalakan kepada anak dan istrinya terutama ketika rasul menerima wahyu pertama surat al alaq 1-5,beliau langsung mengamalkanya pada istrinya yaitu siti khodijah.
kemudian Ajarkan metode belajar yang benar menurut Islam.Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab As-Syakhshiyah
al-Islâmiyyah jilid 1,bahwa Islam mengajarkan metode belajar yang benar, yaitu:
1. Mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga dipahami apa yang dipelajari dengan benar.
2. Meyakini ilmu yang sedang dipelajari hingga bisa dijadikan dasar untuk berbuat.
3. Sesuatu yang dipelajari bersifat praktis, bukan sekadar teoretis, hingga dapat menyelesaikan suatu masalah.
Dalam mempelajari alam semesta, misalnya, dikatakan secara teoretis bahwa bulan mengelilingi bumi. Untuk menjadikannya sebagai pemahaman yang mendalam haruslah anak diajak melihat fakta bulan, yang dari hari ke hari berubah bentuk dan besarnya. Dengan demikian, anak pun menjadi yakin bahwa perubahan tanggal setiap harinya adalah karena peredaran bulan. Dengan begitu, ia dapat mengetahui bahwa menentukan tanggal satu Ramadhan, misalnya, adalah dengan melihat bulan.bahwa Islam mengajarkan metode belajar yang benar,karena tidak mungkin kita mengajarkan hal yang buruk pada orang kita sayangi.


Point penting selanjutnya dalam mencetak generasi qurani adalah Mengajari anak untuk memuliakan para ulama, seperti riwayat Abu Umamah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Ada tiga manusia, tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang munafik. Mereka adalah orangtua, ulama, dan pemimpin yang adil. (HR ath-Thabrani). Karena Ulama adalah pewaris para nabi. Memuliakan dan menghormati mereka, bersikap santun dan lembut di dalam bergaul dengan mereka, adalah di antara adab yang harus dibiasakan sejak kanak-kanak. Memuliakan ulama menjadikan anak akan memuliakan ilmu yang diterimanya, yang dengannya Allah menghidupkan hati seseorang. Abu Umamah ra. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk dekat dengan ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan deras.” (HR ath-Thabrani)
       Langkah terakhir ini lah yang akan menjadi pelengkap dalam mencetak generasi qurani apa itu? Yaitu Mengajak anak menghadiri majelis-majelis kaum dewasa.
Seperti yang di sabdakan Nabi saw. pernah menceritakan bahwa beliau ketika masih kecil juga turut menghadiri majelis-majelis kaum dewasa. Beliau mengatakan: “Aku biasa menghadiri pertemuan-pertemuan para pemuka kaum bersama paman-pamanku….” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad sahih dalam Musnad-nya [2/157] dan oleh Ahmad [1/190]) Dengan membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, akalnya akan meningkat, jiwanya akan terdidik, semangat dan kecintaannya kepada ilmu akan semakin kuat. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.
Kehadliran buah hati bagi para orang tua merupkan investasi yang berkesinambungan. Tentu harus ditumbuhkembangkan sehingga menjadi kader penerus cita-cita besar keluarga. Yaaa, berusaha dan berdo’a jangan sampai anak-anak kita menjadi beban tiada berkeseduhan. Beban kita. Beban para anggota keluarga. Beban masyarakat. Dan beban negara. Nahhh, kiat sederhana ini diharapkan dapat menjadi jamu untuk menyembuhkan segala penyakit. Jamu racikan sendiri ini dihadiahkan para orang tua siap mempunyai generasi yang mBeneh. Mengapa demikian? Inilah jawabannya dalam kiat-kita.



resep atau trik atau bisa juga di sebut oleh oleh dari pembahasan ini yaitu  melejitkan potensi anak.
1.   Ubahlah diri, prilaku, kebiasaan kita, para orang tua sesuai dengan visi, misi, target yang diharapkan pada diri anak. Nahhhh kita mengenal diri kita lebih dalam. Kita harus menyesuaikan diri kita dengan cita-cita terhadap masa depan anak. Bagaimana kita punya cita-cita mensholehkan anak jika tiap saat anak melihat kita dalam bencana keteledoran. Bagamana ada harapan anak mandiri jika setiap hari tidak ditemukan latihan-latihan. Mengubah diri untuk merancang masa depan anak kita. Mau? Berani? Pasti sukses.
2.  Catat kembali kebiasaan buruk masa kecil, masa remaja, dan saat ini. Catat kebiasan buruk yang ditampilkan diri kita. Perbaikan menuju prilaku terpuji. Perbaiki menjadi investasi kenangan yang masuk di otak anak. Jangan biarkan prilaku buruk menghiasi kehidupan anda sehingga secara otomatis anda turunkan ke anak tiap waktu.
3.  Sabarlah, tenanglah jika mendapatkan kenyataan perangai, fisik, prestasi dan kebiasaan anak jauh dengan target dan cita-cita kita. Saatnya melakukan pendekatan. Saatnya mencari sumber apinya. Yaaaa jika ada asap pasti ada sumber apinya. Melalui deteksi sumber api, kita masuk untuk mengubah bertahab, pelan, sabar dan telaten. Kemarahan, kejengkelan tidak mampu mengatasi masalah. Justru menambah rumitnya masalah.
4.  Tempatkan anak-anak kita di situasi terbaik. Maaf situasi terbaik sering dalam persepsi yang tidak sama setiap orang. Semisal ada ibu-ibu yang memanjakan anak dianggap mendidik dalam situasi terbaik. Nah situasi terbaik adalah mengkondisikan lingkungan anak jauh dari pengganggu tumbuh kembang anak baik secara fisik, psikis maupun moral. Dan mendekatkan semua sumber kehidupan yang mampu menumbuhkembangkan inisiatif dan partisipatif positif setiap waktu.
5.  Berilah waktu 24 dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu untuk buah hati kita. Tentu kita bertanya, “berarti kita tidak beraktifitas lain? Berarti kita tidak bekerja?”. Jawaban singkatnya “tidak. Tidak demikian.” Justru kita bekerja dan beraktifitas lain tetapi waktu kita tetap untuk anak secara penuh. Inilah kecerdasan dalam mengatur waktu diri sendiri dan keluarga. Semua dapat berjalan sesuai dengan cara mengatur waktu kita dan memandang esensi waktu. “Bagaimana dengan orang tua yang putra-putrinya lebih dari satu?” Jawabnya sama saja. Bergantung pada kecerdasan mengatur waktu. Masih bingung? Ikuti bahasan dalam sesi kecerdasan mengatur waktu, Insya Allah kali lain.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar