Selasa, 12 Februari 2013

Peran Ibu Dalam Melahirkan dan Mendidik Generasi Qur'ani

Melahirkan merupakan tugas dan keutamaan seorang wanita, yang secara otomatis akan menjadi seorang ibu begitu ia melahirkan. Keutamaan ini memang diberikan Allah Swt khusus kepada kaum wanita. Tidak pernah tercatat dalam sejarah seorang lelaki melahirkan.

Mendidik, apakah ia juga dikhususkan kepad kaum wanita saja? Tentu saja tidak. Mendidik anak adalah tugas dan tanggung jawab seorang ayah. Namun dalam kesehariannya, anak lebih dekat dan lebih banyak berinteraksi dengan ibunya. Oleh karena itu, baik buruknya si anak sangat tergantung dengan pendidikan yang diberikan dan ditanamkan oleh kedua orangtua, terutama ibu.

Memilihkan ibu yang baik bagi anak adalah merupakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Ini berarti si anak berhak untuk mendapatkan ibu yang shalihah. Kalau ini tidak terpenuhi, maka sang ayah telah merampas hak anaknya untuk memiliki ibu yang shalihah.
Untuk mendapatkan pasangan hidup yang shalihah tentu saja tidak mudah. Jika ingin mendapatkan istri seshalihah Fatimah ra, maka jadilah seshalih Ali bin abi Thalib. Begitu juga sebaliknya. Firman Allah Swt, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).

Berbicara tentang “Peran Ibu dalam Melahirkan dan Mendidik Generasi Qur’ani” tentu saja tidak lepas dari pembicaraan tentang sosok ibu yang shalihah yang dari rahimnya akan lahir generasi qur’ani tersebut. Sebelum menjadi ibu seorang wanita akan melewati fase-fase yang panjang. Bayi perempuan yang menggemaskan, gadis cilik yang lucu, remaja putri yang pandai menjaga pergaulannya, gadis shalihah yang siap menikah dan fase terakhir sebelum menjadi ibu adalah menjadi seorang istri. Jadi, sebelum seorang wanita mendidik, ia juga sudah harus melewati masa-masa dididik oleh kedua orangtuanya. Ini merupakan mata rantai yang sangat panjang, karena akan menentukan bagaimana generasi yang akan lahir dari rahim seorang wanita tersebut. Kita berharap semoga kita semua terdidik dalam lingkungan yang Islami sehingga kita bisa menerapkan segala kebaikan yang telah diajarkan oleh orangtua kita tersebut kepada anak cucu kita.

Bagi kaum lelaki yang ingin memiliki keturunan yang shalih, maka ia berkewajiban mencari dan memilih pasangan yang terdidik dalam lingkungan yang Islami. Rasulullah berabad-abad yang lalu telah menuntun kita dalam memilih pasangan yang tepat. “Wanita dinikahi karena 4 perkara, karena kecantikannya, nasab (keturunannya), hartanya dan agamanya. Maka pilihlah berdasarkan agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” Bila seorang lelaki telah memilih istri berdasarkan hadits Nabi ini maka insya Allah generasi qur’ani yang kita idam-idamkan pun akan terwujud.

Sedangkan untuk pihak wanita, bila ingin memilih calon suami maka panduannya dari Rasulullah adalah hadits berikut, ”Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian suka agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Bila tidak, maka pasti terjadi bencana dan kerusakan besar di muka bumi” (HR At-Tirmidzi).

Sekarang marilah kita lihat bagaimana para sahabat Rasul memilihkan jodoh untuk anak-anak mereka. Suatu hari Khalifah Umar ibn Khattab berjalan-jalan di malam hari di kota Madinah untuk mengontrol situasi kota Madinah dan mengecek kebenaran berita para menteri dan walikota tentang keadaan rakyatnya.Saat itu Khalifah mengajak seseorang sebagai temannya.Ketika mereka akhirnya kecapaian, mereka pun bersandar di sebuah dinding rumah penduduk. Tak lama Khalifah Umar mendengar seorang ibu yang tinggal di rumah itu menyuruh anak gadisnya untuk mencampur susu yang akan mereka jual keesokan harinya dengan air. Si gadis menolak.“Apakah ibu tidak mendengar pesan Khalifah Umar agar kita tidak mencampur susu dengan air?” kata si anak gadis itu. Lantas sang ibu berkata, “Kau turuti sajalah perintahku, di sini sekarang tidak ada Khalifah” Lalu anaknya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya. Memang benar Khalifah saat ini tidak berada di sini, tapi bukankah Tuhan Khalifah selalu memperhatikan kita? Aku tidak mau berbuat maksiat kepada Allah, juga tidak mau melanggar peraturan dari Khalifah”

Umar bin Khattab yang mendengar perkataan si gadis shalihah tadi lantas pulang dan memanggil anaknya yang bernama ‘Ashim. Ia ingin menikahkan anaknya dengan gadis penjual susu tersebut. ‘Ashim setuju, maka si gadis penjual susu itu pun menjadi menantu seorang Khalifah yang terkenal dengan keadilannya, Umar bin Khattab. Hasil perkawinan yang penuh berkah ini melahirkan seorang putri yang shalihah yang kemudian dari rahimnya lahirlah seseorang yang terkenal bertaqwa, zuhud dan adil, Umar bin Abdul ‘Aziz.

Umar bin Abdul ‘Aziz, yang lebih dikenal dengan Khulafaur Rasyidin yang kelima itu mewarisi ketaqwaannya dari neneknya, sang penjual susu tadi. Lihatlah bagaimana seorang perempuan yang shalihah bisa mencetak generasi qur’ani. Dikisahkan bahwa pada salah satu lebaran, putri-putri Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz meminta baju baru untuk menyambut lebaran tersebut. Ketika itu Umar bin Abdul ‘Aziz sedang tidak memiliki uang. Setelah didesak oleh putri-putrinya maka beliaupun memerintahkan pegawainya yang bertugas menjaga baitul mal untuk mengeluarkan gaji bulan depannya.Ternyata si pegawai ini tidak mau melaksanakan perintah Khalifah. Dia berkata,”Apakah Anda ingin mengambil gaji bulan depan Anda? Apa Anda yakin akan hidup sampai bulan depan (sehingga Anda berhak atas gaji itu)?” Lalu Khalifah menepuk kepalanya dan berkata pada pegawainya tersebut, “Sungguh kamu diberkati karena telah menjadi pemberi nasehat yang amanah” Kemudian Umar bin Abdul ‘Aziz menoleh kepada putri-putrinya dan berkata, “Apakah kalian mau memakai pakaian baru sedangkan ayah kalian masuk ke dalam neraka karena itu?”

Selain gadis penjual susu yang menjadi nenek Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz ini, masih banyak lagi nama-nama wanita yang tercatat dalam sejarah telah berhasil melahirkan dan mendidik generasi qur’ani. Beberapa di antaranya adalah Ummul Fadhl yang memiliki putra yang digelar al-bahr(lautan) karena keluasan ilmunya. Dialah Abdullah bin Abbas, yang mendapat doa dari Nabi Muhammad Saw, “Ya Allah pahamkanlah dia agama dan anugrahkan dia kemampuan dalam hal ta’wil” Dengan doa ini dan juga didikan Ummul Fadhl maka Abdullah bin Abbas menjadi ahli fiqh sekaligus ahli tafsir yang terkenal.

Ada lagi Al-Khansa’, yang merelakan bahkan mengharapkan kesyahidan keempat putranya dalam perang A-Qadisiyah melawan tentara Romawi.Kita juga mengenal Ummu Aiman, ibu asuh Rasulullah yang sangat setia dan mencintai Rasulullah. Fatimah binti Asad, wanita yang mendidik Nabi setelah Abdul Muthalib wafat. Dialah ibu dari pejuang yang gagah berani, Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib, nenek dari dua pemuda pemimpin para pemuda surga Hasan ra dan Husain ra, ibu dari pahlawan gagah berani yang gugur sebagai syahid dalam perang Mu’tah, Ja’far bin Abu Thalib.

Selanjutnya ada pula Ummu Sulaim, yang mas kawinnya ketika ia menikah adalah islamnya sang calon suami. Dia adalah ibu dari Anas bin Malik, seorang tokoh periwayat hadits Nabi Saw. Sungguh besarlah peran Ummu Sulaim ini yang telah mendidik Anas bin Malik dengan iman dan taqwa sejak ia masih kecil.

Ada lagi Ummu Umarah, wanita gagah yang terjun langsung dalam berbagai pertempuran bersama Rasulullah Saw, di antaranya perang Uhud, Khaibar, Hunain, dan perang Yamamah menumpas kaum murtad. Dari rahimnya juga lahir seorang mujahid yang tak takut mati, Habib bin Zaid. Ia syahid karena dibunuh oleh Musailamah al Kadzab dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu.

Masih ingat dengan ‘Asma’ binti Abu Bakar yang membantu mempersiapkan perjalanan hijrah ayahnya dan Rasulullah? Sahabat Rasul yang satu ini termasuk wanita pertama yang memeluk Islam.Dari rahimnyalah lahir bayi pertama yang dilahirkan di negeri hijrah, Madinah. ‘Asma’ binti Abu Bakar adalah istri dari Zubair bin Awwan, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga, dan ibu Abdullah bin Zubair yang syahid di tangan al Hajjaj.

Kabsyah binti Rafi’, ibu dari seorang mujahid yang kematiannya mengguncangkan ‘Arsy di langit. Kabsyah binti Rafi’ dikenal dengan kunyah Ummu Sa’ad. Ketika terjadi perang Badar, dua putranya yakni Sa’ad bin Muadz dan ‘Amr bin Muadz ikut ke Badar untuk berjihad di jalan Allah. Ummu Sa’ad sangat bahagia dengan bergabungnya kedua putranya dalam peperangan tersebut. Dia tidak khawatir sedikitpun dengan kehilangan kedua anaknya tersebut jika mereka gugur di medan juang, dan semangat itu ditanamkannya kepada kedua anaknya sehingga mereka tidak gentar sedikitpun menghadari peperangan tersebut, meski jumlah pasukan muslimin sangat kecil dibanding pihak Quraisy.

Kita juga tak mungkin lupa dengan Sumayyah, wanita pertama yang syahid dalam Islam. Dia beserta suami dan anaknya dengan keimanan tinggi mempertahankan agama sampai nyawanya berpisah dengan jasad. Begitu juga dengan Shafiyyah binti Abdul Muthalib yang mendidik putranya Zubair bin Awwam dengan keras dan penuh keprihatinan. Ia mengajari Zubair yang ketika itu masih kecil menunggang kuda dan menggunakan senjata, serta mengarahkan Zubair agar permainannya terfokus untuk belajar memanah dan memperbaiki busur. Shafiyyah juga tidak segan-segan menyuruh putranya untuk melaksanakan tugas-tugas yang beresiko tinggi dan berbahaya.

Itulah beberapa di antara wanita-wanita di zaman Rasul dan sahabat yang telah berperan besar dalam melahirkan dan mendidik generasi qur’ani.Bagaimanakah dengan zaman kita ini? Masih adakah wanita-wanita seperti para shahabiyat tersebut? Jawabannya tentu ada dan akan terus ada selama kita memegang teguh ajaran Islam yang dibawa oleh Rasululah Saw ini. Ummu Farhat adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang mampu melahirkan dan mendidik generasi qur’ani di zaman era globalisasi ini. Ia memiliki 5 orang anak lelaki yang kesemuanya berjihad di jalan Allah untuk membebaskan Palestina dari jajahan Israel. Tiga orang anaknya telah syahid, sedangkan yang satunya cacat karena disiksa oleh tentara Israel. Anaknya yang satu lagi adalah seorang anggota parlemen di Gaza dan sampai sekarang masih mendekam dalam penjara Israel dengan hukuman 500 tahun penjara.Kelima anaknya ini adalah para penghapal alqur’an.

Ahlam At-Tamimi, seorang wanita Palestina yang ditawan Israel dalam penjaranya dengan hukuman 16x penjara seumur hidup, karena dia telah membunuh beberapa orang tentara Israel. Dia juga membantu menyediakan fasilitas untuk mujahidin yang melakukan bom syahid, yang menewaskan puluhan tentara zionis Israel.

Subhanallah, sungguh mereka adalah para wanita yang mulia. Akankah kita mencontoh mereka? Tentu saja, Insya Allah. Namun bagaimanakah caranya agar kita dapat berperan sempurna sebagai ibu pencetak generasi qur’ani? Mampukah kita mendidik anak-anak kita jika kita sendiri masih belum terdidik? Ditambah lagi dengan pengaruh lingkungan yang sangat membahayakan ini?

Seperti yang telah disebutkan di atas tadi, jika ingin mendapatkan istri seshalihah Fatimah ra, maka jadilah seshalih Ali bin abi Thalib.Jika ingin mendapatkan anak yang shalih dan menjadi generasi qur’ani, maka kitalah sebagai orangtua yang pertama sekali harus menjadi shalih dan shalihah. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi” Karena itu jika ingin memberikan pendidikan agama yang baik pada anak-anak kita, maka kita harus memiliki dan menjalankan ajaran agama tersebut terlebih dahulu.

Ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak-anaknya, Karena pada ibulah seorang anak banyak belajar.Begitu lahir, anak belajar menyusui dari ibu, belajar tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, mengucapkan kata pertama, semuanya dengan bantuan ibu. Ibulah yang paling banyak menghabiskan waktu untuk mengurus sang anak dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya dari ke hari ke hari. Maka tidaklah salah jika kita katakan bahwa setiap tokoh besar yang memiliki andil penting dalam menaklukkan berbagai belahan negeri dan kerajaan musuh, serta memiliki nama harum yang disebut-sebut sepanjang masa, selalu dibesarkan dan belajar dari kepribadian seorang ibu yang agung lagi mulia.

Bagi setiap ibu yang ingin keturunannya menjadi generasi qur’ani, hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Susukanlah mereka dengan Air Susu Ibu secara eksklusif selama 6 bulan dengan lanjutan ASI dan makanan tambahan sampai mereka berusia 2 tahun. Sedapat mungkin hindarkan memberi anak-anak susu formula, karena sebaik apapun susu formula, ASI tetaplah yang paling utama, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi yang telah disediakan Allah Swt dalam tubuh seorang ibu.
2. Doakanlah anak-anak kita dengan kebaikan, karena doa seorang ibu adalah doa yang maqbul. Biasakanlah berkata yang baik di depan anak-anak, dan jangan ucapkan kata-kata keji, seperti cacian dan makian terhadap anak. Ingatlah, betapa banyak orangtua yang mengatakan anaknya, “bodoh, pemalas, cengeng” dan ungkapan-ungkapan bernada negatif lainnya menghasilkan anak-anak yang sesuai label atau cap yang diberikan.
3. Ajarkan anak-anak untuk selalu berdoa di setiap saat, agar tertanam di hati mereka rasa takut dan berharap hanya kepada Allah.
4. Ajarkan mereka Alqur’an, kebaikan dan akhlaq karimah, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.
5. Jauhkan mereka dari pengaruh buruk tv, hp, komputer dan segala media yang merusak fisik dan mental mereka.
6. Gunakan metode dongeng dan cerita dalam mendidik anak.
7. Perbanyak waktu bersama anak-anak, sehingga kedekatan anak dan ibu akan terjalin. Jika anak dan ibu memiliki ikatan batin yang kuat, maka akan mudah bagi si ibu untuk mendidik dan mengarahkan anaknya.
8. Beri mereka makanan bergizi yang halal, karena dengan makanan halal lah generasi qur’ani akan terwujud.
9. Ajari mereka permainan yang dapat mengasah otak, fisik dan mental mereka.
10. Didik anak sejak dalam kandungan

Dengan beberapa hal di atas, disertai tekad dan semangat yang tinggi, mudah-mudahan cita-cita setiap ibu yang ingin mendapatkan anak yang shalih dan menjadi generasi qur’ani akan terwujud. Amin. Wallahu a’lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar