Selasa, 07 Agustus 2012

Simpan Janjimu, akhi!

Akhi, bukanku tak mau dengar tiap kata yang merasuk qalbuku, ku hanya tak sanggup untuk mendengar tiap kali kau unggkapkan kata pemanis hati.

Tapi, tahu kah kau? aku bukanlah wanita yang hanya ingin diperdengarkan kata manis, bukan pula yang diberikan rasa pesakitan yang kau buaikan dalam janji-janjimu. Maka akhi, simpan janjimu sebelum kau halalkan aku.


Akhi, aku memang bukanlah wanita bak aisyah yang pantas diberi sekuntum mawar dengan segala keharumannya. Ku pun tak pantas bila kau puja puji agar hatiku bagaikan air yang tak pernah tenang.

Tapi, tak kupingkiri bila ku bahagia saat kau ungkapkan janjimu yang menggores sebagian hatiku. Bahkan ku pun tak tahu sampai kapan janjimu akan terus kau hadirkan padaku sebelum akhirnya kau tunaikan. Aku hanya takut kau pergi sebelum tertunaikan. Maka, simpan janjimu akhi, sebelum kau halalkan aku.


Akhi, kau tawarkan Planet Venus untukku, meski itu tak mungkin bagimu. Kau tawarkan rembulan bagiku, meski tak sanggup kau merengkuhnya. Janjimu menawarkanku keindahan semesta yang mengagumkan.

Tapi, ku sadari janjimu adalah kerianganku, pelangi hatiku, yang membuatku yakin bahwa kau akan menggenggam dunia untukku. Namun kadang aku pedih, saat tanpa kau sadari bahwa janji-janjimu itu seakan hanya ingin membuaiku untuk mengajakku pada kepalsuan syetan. Maka akhi, simpan janjimu sampai kau halalkan aku.


Akhi, ku tahu janjimu adalah perhatianmu padaku. Kau peduli padaku, kau ingin aku meyakini bahwa kau adalah raja untuk hatiku. Aku pun yakin dengan janjimu, hati siapa yang tidak akan terpaut pada kerinduan panjang untuk segera merangkul janji indahmu.


Tapi, tahu kah kau? aku memang terpesona dengan kegagahan janjimu yang mampu meruntuhkan hijabku. Melemparkan iffah dan izzahku pada jurang terendah hingga ku tak mampu merangkak naik. Maka akhi, simpan janjimu sebelum kau halalkan aku.

***


Sebagian wanita mungkin sudah terbiasa dengan janji-janji sehingga mereka sudah tidak peduli lagi dengan janji. Sedangkan sebagian wanita yang lain mungkin akan menangis bahkan tidak dapat melupakan janji yang terlalu manis yang terlanjur merekat di hati.

Kesalahan banyak wanita terkhususnya muslimah adalah mudah percaya dengan janji dalam hubungan yang biasa disebut ta’aruf, bahkan mereka juga lupa bahwa ta’aruf sering dijadikan ajang para ikhwit untuk menjerat mangsanya.

Maka, perlunya segera disadari bahwa menjaga hati dari hal-hal berbau janji yang tidak pasti, kalau pun janji itu benar adanya maka janji itu tak akan terucap pada para muslimah namun akan terucap pada orangtua mereka.


“setiap janji itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS al-Israa’ [17]: 34)


Semoga kita cepat membuka mata hati kita dan menyadarinya.


Wallahua’lam bish shawwab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar